KEFAMENANU NEWS,– Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sukses menggelar rangkaian kegiatan literasi pada hari Selasa-Rabu (9-10 Desember 2025). Salah satu agenda utamanya adalah Bedah Buku Koleksi Perpustakaan Umum Kabupaten TTU yang mengusung tema “Menelusuri Identitas Budaya Atoin Meto dalam Kearifan Lokal Timor.”
Acara tersebut berlangsung di Aula Baca Dinas Perpustakaan TTU dan diikuti oleh para siswa/i SMP, SMA/SMK, mahasiswa/i hingga masyarakat umum.

Adapun para pembedah buku berasal dari kalangan akademisi/dosen di Unversitas Timor dan Sekolah Tinggi Pastoral St. Petrus Keuskupan Atambua.
Sementara itu, terdapat 2 (dua) buku, hasil karya penulis lokal yang dibedah dalam kegiatan tersebut, yakni :
- Buku Timor Barat dari Abad ke Abad karya Drs. Wilfridus Silab, M.Si. Dibedah oleh Dr. Anselmus Yata Mone, S.Fil., M.Pd dan Dr. Vincentius Mauk, S.Pd., M.Pd pada hari Selasa (9 Desember 2025).

- Buku Kebudayaan Atoni Meto karya Drs. Yohanes Sanak, MA dan Drs. Wilfridus Silab, M.Si. Dibedah oleh Dr. Vincentius Mauk, S.Pd., M.Pd dan Marianus Sengkoen, S.Fil., M.Sos pada hari Rabu (10 Desember 2025).

Wilfridus Silab Hadirkan Buku Sejarah Timor Barat Berbasis Kronologi Waktu
Dalam kesempatan tersebut, Drs. Wilfridus Silab, M.Si. memperkenalkan karya terbarunya, “Timor Barat dari Abad ke Abad,” yang menjadi buku kedua dalam rekam jejak akademiknya. Ia menjelaskan bahwa buku tersebut disusun dengan pendekatan kronologi untuk menyatukan catatan sejarah tertulis dengan cerita lisan yang diwariskan oleh para tetua adat.
Menurutnya, banyak sejarah lokal selama ini disampaikan tanpa penanda waktu yang jelas. Buku ini hadir untuk menyinkronkan tradisi lisan dengan data tertulis, menggunakan kombinasi literatur sekunder dan cerita lisan sebagai data primer.

“Dengan menggabungkan dua sumber ini, saya berharap sejarah Timor Barat dapat ditelusuri secara lebih runtut hingga memasuki abad ke-20,” ungkapnya.
Buku tersebut memuat beragam peristiwa penting beserta tahun kejadiannya dan diharapkan menjadi rujukan bagi masyarakat, peneliti, serta pendidik.
Buku “Kebudayaan Atoni Meto” Hasil Penelitian Hampir Satu Dekade
Selain itu, buku “Kebudayaan Atoni Meto” karya Drs. Yohanes Sanak, MA dan Drs. Wilfridus Silab, M.Si. menjadi sorotan lainnya. Buku setebal 118 halaman tersebut memaparkan berbagai aspek budaya Atoin Meto, mulai dari politik, kepercayaan, bahasa, hingga olahraga dan permainan tradisional.
Usai kegiatan, Yohanes mengatakan bahwa proses penyusunan buku ini berlangsung hampir selama satu dekade.
“Penelitiannya panjang. Kami sempat menulis dengan judul berbeda, tetapi banyak materi yang berkaitan sehingga kami padukan dan baru terbit tahun 2024. Finalisasi sudah dimulai sejak 2022,” jelas Yohanes.

Ia juga mengapresiasi ruang yang diberikan Dinas Perpustakaan TTU bagi para penulis untuk menerima kritik konstruktif yang dapat menjadi bahan penyempurnaan edisi mendatang.
“Ini merupakan dokumen payung kebudayaan bagi masyarakat TTU. Masih ada belasan judul lain yang bisa dikembangkan. Kami berharap ada peneliti muda yang terdorong untuk mendalami budaya ini,” ujarnya.
Yohanes turut menyampaikan kekhawatirannya akan kurangnya regenerasi peneliti budaya lokal.
“Pak Wily sudah hampir 70 tahun, saya 50 tahun. Setelah kami, siapa lagi? Karena itu kami mendorong dosen dan peneliti muda untuk mengambil bagian,” tegasnya.
Kadis Perpustakaan TTU: Kami Ingin Kearifan Lokal Terdokumentasi dengan Baik

Kepala Dinas Perpustakaan TTU, Amandus Afeanpah, S.Sos menjelaskan bahwa bedah buku ini merupakan satu dari tiga kegiatan literasi yang digelar pada hari yang sama. Tiga agenda tersebut mencakup:
- Peningkatan akses pendidikan melalui peran perpustakaan sebagai bagian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
- Lokakarya digitalisasi perpustakaan dan literasi digital, menghadirkan narasumber dari dosen IT Unimor, dengan peserta dari kalangan pelajar dan masyarakat umum.
- Bedah buku karya Yohanes Sanak dan Wilfridus Silab.
Menurut Amandus, kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap banyaknya cerita rakyat dan kearifan lokal TTU yang belum terdokumentasi secara resmi.

“Banyak kisah lokal yang belum memiliki ISBN maupun penerbitan yang jelas. Ini memicu kami mengumpulkan para penulis dan pegiat literasi agar kearifan lokal dapat dihidupkan kembali dalam bentuk buku yang terdokumentasi,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan literasi seperti ini dapat meningkatkan minat baca dan menulis serta memperkaya referensi mengenai identitas budaya masyarakat TTU.
Penulis: Poldus Meomanu
Editor : Kristo Ukat
