Ketika Rumah Rapuh Menjadi Harapan, Doa Petrus Dijawab Tuhan Melalui Program RLH–TULUS

KEFAMENANU NEWS,- Mengenakan sarung Timor, Petrus Nahak Nino (44) berlari kecil memasuki rumahnya yang berdiri rapuh, dikelilingi hamparan pepohonan dan tumbuhan hijau.

Rumah berukuran 4×5 meter itu berdinding pelepa bambu yang disangga kayu-kayu tua, sebagian telah dimakan rayap. Atap seng yang menutupinya tampak keropos termakan usia. Lantainya masih berupa tanah, sementara beberapa sudut rumah harus ditambal dengan seng bekas berkarat.

Kondisi rumah Bapak Petrus Nahak Nino dan keluarga saat ini. Foto : Apson/Kominfotik TTU

Bagian sisi kanan rumah terlihat miring ke arah matahari terbit, seakan menyimpan kisah panjang tentang perjuangan hidup yang terus bertahan melewati cuaca dan waktu.

Di dalam rumah itu, Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, S.IP., MA, telah hadir bersama istri Petrus, Rasina BR Harianja (41), dan ketiga buah hati mereka.

Eee… kasian,” ucap Bupati Falent Kebo lirih saat melihat langsung kondisi bagian dalam rumah tersebut, Rabu (26/11/2025).

Terlihat satu tempat tidur dengan kelambu putih lusuh di tengah perlengkapan rumah tangga yang ditata seadanya.

Bupati Falent saat melihat langsung kondisi bagian dalam rumah Bapak Petrus Nahak Nino dan keluarga, Rabu (26/11/2025). Foto : Apson/Kominfotik TTU

A i, hi atoni fauk esam tu’pam nbi hala nae? (Berapa orang tidur di sini?-red)” tanya Bupati dalam bahasa Dawan Uab Meto.

Ha’ (empat orang-red),” jawab Petrus dan istrinya.

Meski tampak nyaris roboh, rumah itu menyimpan sejuta kisah kehidupan Petrus dan keluarganya. Tempat mereka pulang, berlindung, dan menggantungkan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Perjuangan Panjang Petrus dan Keluarga

Saat berbincang dengan media ini, Petrus mengenang kembali perjalanan hidupnya. Ia merantau ke Jakarta sejak 2002 demi mengais rezeki, dan di kota itu pula ia dipertemukan dengan tambatan hatinya, Rasina.

Bapak Petrus Nahak Nino dan keluarga saat diwawancarai oleh media ini, Rabu (26/11/2025). Foto : Apson/Kominfotik TTU

Mereka menikah pada 2012 dan dikaruniai tiga anak: Maria Jesika Septiani Nino (17), serta si kembar Adelino Arseneo Loka Nino (10) dan Adelia Franisa Haki Nino (10). Ketiganya lahir di rantau.

Tahun 2018, Petrus memutuskan kembali ke kampung halaman di Desa Kuanek untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri. Ia bekerja sebagai petani. Maria kini bersekolah di kelas XI SMK Oeolo, sementara si kembar duduk di kelas IV SD Bisafe.

Dengan segala keterbatasan, Petrus membangun sendiri rumah sederhana itu di atas tanah warisan orang tuanya. Tempat kecil yang menjadi saksi perjalanan mereka bertahun-tahun.

Kisah Haru Adelino yang Tetap Bersekolah

Petrus kemudian berkisah tentang putra tunggalnya, Adelino, yang lahir kembar dengan Adelia. Di balik senyumnya, ada kisah yang tak ringan.

Saat berusia dua tahun, Adelino mengalami kecelakaan di persimpangan Kantor Camat Musi. Ia ditabrak sepeda motor hingga harus mendapat 25 jahitan di bagian belakang kepala. Syukurlah, nyawanya terselamatkan.

Peristiwa serupa terulang ketika ia berusia lima tahun. Setelah pulang dari PAUD, ia terserempet lagi di depan Kantor Desa Oeolo dan kembali mengalami luka di bagian kepala.

Dari kejadian beruntun itu, Adelino mengalami gangguan pada telinga dan hingga kini tidak dapat mendengar maupun berbicara.

Pada Oktober 2025, Adelino juga sempat terjatuh di pagar dekat rumah dan harus dilarikan ke Puskesmas Oeolo.

Saat di puskesmas, perawat bilang anak ini tidak bisa dengar dan bicara. Dokter minta dirujuk ke RSUD Kefamenanu, lalu ke Kupang dua kali. Mau rujuk lagi ke Bali. Mungkin ini cara Tuhan melalui dukungan pemerintah karena anak ini masih semangat untuk sekolah,” cerita Petrus dengan suara bergetar.

Program RLH–TULUS: Doa yang Menjadi Nyata

Bupati Falent saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Layak Huni – Terima Kunci Plus Sanitasi (RLH–TULUS) bagi Bapak Petrus Nahak Nino dan keluarga, Rabu (26/11/2025). Foto : Apson/Kominfotik TTU

Seperti pelangi setelah hujan, harapan Petrus untuk memiliki rumah layak huni akhirnya dijawab.

Pertemuannya dengan Bupati Falent Kebo di Kantor Bupati TTU menjadi titik balik. Bupati kemudian menginstruksikan Dinas PRKPP TTU bersama Camat Bikomi Tengah untuk melakukan survei ke rumah Petrus pada 3 Oktober 2025.

Rabu (26/11/2025), momen yang dinantikan itu datang. Bupati TTU turun langsung melakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Layak Huni – Terima Kunci Plus Sanitasi (RLH–TULUS) bagi keluarga Petrus.

Saya tadi hampir menangis. Rumah ini saya bangun sendiri untuk tempat tinggal kami. Ini tanah milik saya, warisan orang tua. Dari dulu saya merindukan rumah yang layak untuk keluarga,” tutur Petrus dengan mata berkaca-kaca.

Bupati Falent saat menyampaikan sambutan dalam kegiatan tersebut, Rabu (26/11/2025). Foto : Apson/Kominfotik TTU

Peletakan Batu Pertama Bukan Sekadar Seremonial

Hari ini, Tuhan menjawab doa ibu, bapak, dan anak-anak,” ujar Bupati TTU dalam sambutannya, disambut tepuk tangan meriah warga yang hadir.

Ia menegaskan bahwa peletakan batu pertama bukan sekadar seremoni, tetapi bukti bahwa negara hadir untuk warganya.

Bupati Falent berfoto bersama pejabat terkait dan masyarakat di sela-sela kegiatan, Rabu (26/11/2025). Foto : Apson/Kominfotik TTU

Mudah-mudahan pembangunan cepat selesai, sehingga keluarga Pak Petrus bisa segera tinggal. Pembangunan rumah tiga bulan berarti tahun baru, rumah baru. Rumah sampai keramik,” ungkapnya, berharap anak-anak Petrus dapat terus bersekolah dengan baik.

Penulis : Apson Benu
Editor : Kristo Ukat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *