KEFAMENANU NEWS,– Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menyelenggarakan Festival Tenun Kreatif TTU 2025 pada Sabtu (29/11/2025), di lapangan futsal depan Rumah Jabatan Bupati TTU. Acara ini dibuka langsung oleh Wakil Bupati TTU, Kamillus Elu, dan dihadiri sejumlah pejabat daerah, perwakilan organisasi wanita, pelajar, serta undangan lainnya.
Dalam karnaval ini para peserta tampil memukau dengan balutan kain adat yg di modif menjadi lebih menarik,tenunan bukan hanya sekadar menampilkan Kain,namun setiap utas benang yg ditampilkan mencerminkan kepribadian dan juga corak kultur orang Timor.

Wabup Kamillus Elu menyampaikan bahwa festival ini menjadi ruang bagi masyarakat TTU untuk merayakan identitas, kreativitas, dan kekayaan budaya yang diwariskan oleh leluhur.
Ia menekankan bahwa tenun ikat khas TTU bukan semata-mata sebuah karya seni, melainkan simbol kekuatan, kebijaksanaan, dan semangat gotong royong yang selama ini dijaga para penenun terutama para perempuan.
Lebih jauh, Wabup Kamillus menyampaikan apresiasi atas peran Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta semua pihak yang mendukung terselenggaranya festival.

“Saya berharap festival ini mampu menjadi daya tarik bagi Kabupaten TTU mempromosikan budaya tenun kita serta mendorong agar para pelaku UMKM kita semakin maju, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Festival ini diharapkan tidak hanya melestarikan nilai budaya, tetapi juga memperkuat sektor ekonomi kreatif lokal memberi ruang bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang.
Penyelenggaraan festival seperti ini bukan tanpa landasan. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk di TTU, sektor ekonomi kreatif dan UMKM menjadi ujung tombak dalam mengangkat potensi lokal.

Misalnya melalui program Kampung UMi Klaster Tenun sebuah inisiatif penyaluran pembiayaan dan pendampingan bagi pengrajin tenun tradisional para penenun perempuan di TTU dibina agar usahanya lebih terstruktur, berkelanjutan, serta memperoleh akses pasar yang lebih luas.
Dengan demikian, festival di TTU bukan cuma soal mempertontonkan warisan budaya, tetapi juga tentang membuka peluang ekonomi nyata bagi masyarakat dari peningkatan pendapatan, pembukaan akses pasar, hingga menjaga tradisi agar tetap relevan di era modern.

Penulis : Lius Salu
Editor : Kristo Ukat
