Bukit Leosikun: Primadona Pariwisata di Desa Saenam Kabupaten TTU

KEFAMENANU NEWS,- Di sudut Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), tepatnya di Desa Saenam, Kecamatan Miomaffo Barat, sebuah bukit yang dulu gersang kini menjelma menjadi destinasi alam yang memikat. Bukit Leosikun. Perlahan bangkit sebagai primadona wisata baru di wilayah perbatasan RI-RDTL, berkat semangat gotong royong masyarakat yang tak kenal lelah.

Dulu, kawasan ini hanyalah sebuah lokasi bekas galian proyek Sabuk Merah. Kering, berdebu, dan nyaris tak dilirik. Namun di tangan masyarakat Desa Saenam, wajahnya berubah total. Lubang-lubang galian disulap menjadi ruang hidup baru, ditanami aneka bunga yang kini mekar dan mempercantik lanskap bukit.

Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Saenam, Fransiskus Xaverius Nofu, kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan BPD menjadi kunci utama perubahan ini.

“Bukit ini dulunya gersang, tetapi dengan pengolahan yang baik, kita ingin menjadikannya indah dan menarik bagi pengunjung,” ungkap Kepala Desa Saenam, Rabu (25/3/2026).

Harapan pun tumbuh. Bukan hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Panorama dari Ketinggian 1.420 MDPL

Dari ketinggian sekitar 1.420 meter di atas permukaan laut, pengunjung akan disuguhi panorama alam yang luar biasa. Gunung Mutis tampak megah di kejauhan, berdiri kokoh sebagai penjaga lanskap Timor. Sementara itu, kawasan Eban terlihat membentang indah, menghadirkan ketenangan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Di tempat ini, angin seolah membawa pesan: bahwa keindahan sering kali lahir dari kesabaran dan kerja keras.

Pesona Siang dan Malam

Bukit Leosikun bukan hanya memikat di siang hari. Saat malam tiba, lampu-lampu yang menerangi kawasan bukit menciptakan suasana hangat di tengah udara pegunungan yang sejuk.

Fasilitas sederhana pun mulai tersedia. Seperti gazebo untuk bersantai, spot foto bagi para pemburu momen, hingga kantin yang dikelola BUMDes dengan melibatkan pelaku UMKM lokal. Semua dikelola dengan semangat kemandirian desa.

Menariknya, kawasan ini terbuka 24 jam. Pengunjung bebas datang kapan saja, bahkan untuk camping dan menikmati malam di bawah langit penuh bintang. Meski masih perlu membawa perlengkapan sendiri karena penginapan belum tersedia.

Ramah di Kantong, Kaya Pengalaman

Dengan tiket masuk hanya Rp5.000 per orang (gratis untuk anak-anak), serta tarif parkir yang terjangkau, Bukit Leosikun menjadi destinasi wisata yang inklusif bagi semua kalangan.

Kini, setiap hari libur, sekitar 50 pengunjung datang menikmati pesonanya. Di hari biasa, angka itu berkisar 20 orang. Padahal, pada awal tahun 2025, bukit ini belum dikunjungi sama sekali.

Perubahan signifikan ini turut berdampak pada pendapatan desa. Dari sektor wisata ini, PADes telah menembus lebih dari Rp35 juta sepanjang tahun 2025. Sebuah capaian yang menunjukkan bahwa desa mampu mandiri melalui potensi lokalnya.

Terus Berbenah Menuju Destinasi Unggulan

Perjalanan Bukit Leosikun belum berhenti. Tahun ini, pembangunan fasilitas MCK tengah berlangsung. Ke depan, direncanakan pula kolam renang, kolam pancing, hingga lapangan futsal dan voli melalui dukungan berbagai pihak. “Kolam pancing sudah ada,” ungkap Kades Saenam.

Bukit Leosikun menjadi bukti nyata bahwa dari lahan yang pernah tandus, harapan bisa tumbuh. Dengan semangat kebersamaan, tempat ini tidak hanya menghadirkan keindahan alam, tetapi juga membuka jalan bagi kesejahteraan masyarakat di beranda negeri.

Penulis: Apson Benu / Diskominfotik TTU Editor: Frumentus Bana / Diskominfotik TTU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *