KEFAMENANU, NEWS – Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, melatih peternak di Desa Oenbit, Kecamatan Insana, membuat pakan ternak babi berbahan lokal untuk menekan biaya produksi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.
Pelatihan tersebut dilakukan melalui penyuluhan dan demonstrasi pembuatan pakan ternak babi kepada anggota Kelompok Tani Dewasa (KTD) Besnaen Tafenok, Jumat (11/9).
PPL Dinas Pertanian Kabupaten TTU Susana K. Tahun, SP, mengatakan kemampuan membuat pakan secara mandiri penting dimiliki peternak agar tidak sepenuhnya bergantung pada pakan komersial.
“Praktik pembuatan pakan ternak babi ini bertujuan membekali peternak dengan kemampuan membuat pakan yang tepat guna, hemat, dan bergizi sesuai kebutuhan ternak,” katanya di Kefamenanu, Senin (14/9).
Menurut Susana, pakan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan pertumbuhan, kesehatan, dan produktivitas ternak babi.
Karena itu, pakan yang diberikan harus mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang sesuai dengan umur dan kondisi ternak, baik untuk pembibitan, penggemukan maupun induk bunting dan menyusui.
Selain memenuhi kebutuhan nutrisi, pembuatan pakan secara mandiri dapat membantu peternak mengurangi biaya produksi dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Bahan tersebut antara lain dedak, jagung, ampas tahu, daun singkong, dan limbah dapur yang masih layak serta aman digunakan sebagai bahan pakan.
“Peternak dapat memanfaatkan bahan pakan lokal sehingga biaya yang dikeluarkan lebih rendah dibandingkan jika terus membeli pakan pabrikan,” ujarnya.
Ia mengatakan pemanfaatan bahan lokal juga dapat mengurangi limbah pertanian sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya yang tersedia di daerah.
“Di NTT, misalnya, tersedia berbagai bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan, seperti ubi, jagung, dan daun lamtoro,” katanya.
Susana menambahkan, kegiatan tersebut juga memberikan keterampilan kepada peternak mengenai teknik pencampuran, pengolahan, fermentasi, hingga penyimpanan pakan yang benar.
Pengetahuan tersebut penting untuk mencegah pakan mengalami kerusakan, berjamur, atau terkontaminasi zat yang dapat membahayakan kesehatan ternak.
Dengan ketersediaan pakan yang berkualitas dan biaya yang lebih rendah, produktivitas ternak diharapkan meningkat sehingga dapat memberikan keuntungan yang lebih baik bagi peternak.
“Dengan pakan yang berkualitas dan biaya yang lebih murah, konversi pakan atau FCR dapat menjadi lebih baik, babi tumbuh lebih cepat, dan keuntungan peternak meningkat,” katanya.
Kegiatan tersebut dihadiri Pemerintah Desa Oenbit, siswa-siswi praktik dari SMK St. Pius X Insana, 20 anggota kelompok tani, serta masyarakat setempat.
Susana berharap keterampilan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh peternak untuk mendukung pengembangan usaha peternakan babi di wilayah tersebut.
Penulis : Lius Salu
Editor : Frumentus Bana
