KEFAMENANUNEWS — Ketua Kelompok Tani, Paskalis Kefi, menyampaikan bahwa pertukaran pengetahuan dan praktik langsung bersama petani dari Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, memberikan pengalaman baru bagi kelompok tani di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), khususnya dalam penerapan teknologi pertanian berbasis jerami dan eco enzym.
Hal tersebut disampaikan Paskalis saat menerima kunjungan dan praktik langsung petani dari Pesisir Selatan di lahan pertanian kelompok tani di Desa Banaen C, Kabupaten TTU, Kamis (25/9/2026), pukul 11.00 WITA hingga selesai.
Paskalis mengatakan, dirinya sebelumnya pernah mengikuti pelatihan di Sumatera Barat yang memperkenalkan pemanfaatan jerami dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Pengetahuan tersebut kemudian coba diterapkan dan dikembangkan di lahan pertanian di TTU.
Menurutnya, dalam praktik yang dilakukan, jerami dipadukan dengan penggunaan eco enzym yang dikembangkan di TTU. Ia menyebut, penerapan tersebut masih dalam tahap uji coba dan terus diamati untuk melihat hasilnya.
“Dari pelatihan di Sumatera Barat, saya belajar bagaimana jerami dimanfaatkan di lahan. Sekarang kami mencoba mengawinkan atau memadukan jerami dari Pesisir Selatan dengan eco enzym dari TTU,” ujar Paskalis.
Ia menjelaskan, pengamatan terhadap tanaman yang menggunakan jerami telah dilakukan selama kurang lebih dua minggu. Meskipun kondisi cuaca cukup panas, tanaman yang menggunakan jerami dinilai masih terlihat segar dan mampu bertahan.
Sebagai pembanding, Paskalis juga mencoba melihat kondisi tanaman yang menggunakan bahan dari toko. Menurut pengamatannya, tanaman yang tidak menggunakan jerami lebih cepat mengalami kelayuan ketika terkena panas, sementara tanaman yang menggunakan jerami tetap terlihat segar.
“Walaupun baru dua minggu kami amati dan cuacanya cukup panas, tanaman yang menggunakan jerami tetap bertahan dan terlihat segar. Ini yang sedang kami amati dan buktikan,” katanya.
Saat ini, Paskalis bersama kelompok taninya kembali melakukan percobaan dengan memadukan jerami yang dibawa dari Pesisir Selatan dengan eco enzym yang dikembangkan di TTU. Hasil percobaan tersebut masih menunggu proses pengamatan lebih lanjut.
Ia menegaskan, lahan tersebut akan terus dikembangkan sebagai kebun contoh kelompok tani, sehingga apabila hasilnya baik, praktik tersebut dapat dibagikan kepada kelompok tani lainnya di wilayah TTU.
“Kami tetap berjuang dan membuktikan hasilnya. Kalau nanti hasilnya baik, lahan ini bisa menjadi kebun contoh dan selanjutnya kami publikasikan kepada kelompok tani yang lain,” ungkapnya.
Paskalis juga mengapresiasi kunjungan petani dari Pesisir Selatan yang tidak hanya melakukan pertemuan di dalam ruangan, tetapi turun langsung ke lahan pertanian untuk berbagi pengetahuan dan melakukan praktik bersama.
Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi petani TTU dan Pesisir Selatan untuk saling bertukar pengalaman mengenai teknik budidaya yang dapat dikembangkan sesuai kondisi masing-masing daerah.
“Kesan saya, kunjungan dari Pesisir Selatan sangat baik karena mereka turun langsung ke lokasi. Kami bisa saling tukar ilmu dan langsung mempraktikkan cara menanam yang lebih berkembang,” ujarnya.
Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi petani di TTU untuk terus melakukan inovasi, menguji metode pertanian yang sesuai dengan kondisi lokal, serta membangun kebun-kebun percontohan yang dapat menjadi tempat belajar bersama bagi kelompok tani lainnya.
Penulis: Manto Manu / Diskominfotik / Kab. TTU
Editor: Frumentus Bana / Diskominfotik / Kab. TTU
