KEFAMENANU NEWS,- Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), melakukan panen raya jagung hibrida Nusa Timore 7701 sebagai bagian dari program ketahanan pangan serta sarana asimilasi dan edukasi, Senin (5/10/2026).
Panen raya tersebut dipimpin Kepala Rutan Kelas IIB Kefamenanu, Muhamad Nurseha, di lahan pertanian milik Rutan yang berlokasi di Kelurahan Kefamenanu Selatan, Kecamatan Kota Kefamenanu.
Optimalkan Lahan Negara untuk Pertanian
Lahan pertanian yang dikelola Rutan Kefamenanu memiliki luas hampir satu hektare. Dari luas tersebut, sekitar 0,80 hektare dimanfaatkan untuk budidaya jagung hibrida.
Pengembangan sektor pertanian ini dilakukan melalui kerja sama dengan petani lokal, Mohamad Tri Chahyono atau yang akrab disapa Mas Cahyo. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi langkah untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan negara yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal.
Muhamad Nurseha mengatakan, program pertanian tersebut tidak hanya ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
“Kegiatan ini tidak lepas dari kerja sama dengan Dinas Pertanian dan para penyuluh yang terus mendampingi. Di samping pembinaan yang ada di Rutan, kami juga melaksanakan pembinaan kemandirian berupa ketahanan pangan,” ujar Nurseha.
Menurutnya, pemanfaatan lahan Rutan untuk kegiatan pertanian sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Selain tanaman jagung, Rutan Kefamenanu juga mengembangkan berbagai kegiatan produktif lainnya, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), produksi makanan, kerajinan, hingga budidaya tanaman hortikultura berupa sayur-sayuran.
Nurseha menyebutkan, pengembangan hortikultura yang dilakukan sebelumnya juga telah memberikan hasil positif. Bahkan, Rutan Kefamenanu sempat mewakili Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di NTT dalam kegiatan panen raya.
“Di tengah kondisi kering seperti sekarang, kita tetap menanam jagung dan puji syukur bisa panen. Ini juga berkat kerja sama kelompok tani, Dinas Pertanian dan teman-teman penyuluh,” katanya.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus berlanjut, termasuk dalam hal dukungan sarana dan prasarana pertanian sehingga pemanfaatan lahan dapat diperluas.
“Kalau ini berhasil, nanti kita bisa melebar ke lahan di sebelah sana. Potensinya masih cukup besar untuk mendukung ketahanan pangan,” ujarnya.
Jadi Sarana Pembinaan dan Persiapan Kemandirian
Lebih lanjut, Nurseha mengatakan pemanfaatan lahan pertanian tersebut juga diproyeksikan menjadi sarana pembinaan bagi warga binaan, sekaligus membuka peluang kerja bagi mereka setelah menyelesaikan masa pidana.
“Kami berharap ke depan kegiatan ini bisa menampung tenaga kerja dari warga binaan yang membutuhkan pekerjaan setelah selesai menjalani pidana. Jadi selain mendukung program pemerintah, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan,” katanya.
Target Panen Capai 10-12 Ton
Sementara itu, mitra Rutan Kefamenanu, Mohamad Tri Chahyono, mengaku tertarik mengembangkan sektor pertanian di TTU karena melihat peluang usaha yang cukup menjanjikan.
“Harga hasil pertanian di sini relatif lebih tinggi dibandingkan di Jawa. Itu yang membuat saya tertarik mengembangkan usaha pertanian sekaligus memberikan contoh kepada masyarakat agar lahan-lahan kosong dapat dimanfaatkan secara produktif,” kata Mas Cahyo.
Ia mengatakan telah mengelola lahan tersebut selama hampir satu tahun. Sebelum ditanami jagung hibrida, lahan tersebut telah dimanfaatkan untuk berbagai tanaman hortikultura seperti sawi, kangkung, tomat, cabai, pare, patola dan kacang panjang.
Hasil panen hortikultura tersebut mendapat respons positif dari masyarakat karena lokasi kebun cukup dekat dengan pasar. Pembeli juga dapat datang langsung dan memetik hasil pertanian dari kebun.
Untuk mendukung budidaya jagung pada musim kemarau, lahan tersebut dilengkapi sumur bor yang dimanfaatkan sebagai sumber air bagi tanaman.”Untuk mendukung penanaman jagung saat musim kemarau, kami memiliki sumur bor yang dapat membantu kebutuhan air tanaman. Target kami panen bisa mencapai 10 sampai 12 ton,” ujarnya.
Gunakan Jagung Hibrida Nusa Timor 7701
Dalam pengembangan tanaman jagung tersebut, pendampingan teknis dilakukan oleh tim Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kota Kefamenanu.Koordinator Penyuluh BPP Kota Kefamenanu, Cornelia Moenesu, mengatakan kerja sama antara Mas Cahyo dan Rutan Kefamenanu telah berlangsung sejak Mei 2025.
Menurutnya, lahan sekitar 0,80 hektare yang kini ditanami jagung sebelumnya digunakan untuk berbagai komoditas hortikultura. Namun, dalam rangka mendukung program swasembada pangan, petani kemudian didorong untuk mengembangkan tanaman jagung.
Ia menjelaskan, jagung ditanam dengan jarak 40 x 50 sentimeter. Benih yang telah ditanam kemudian ditutup menggunakan sekam untuk menjaga kelembapan tanah sekaligus membantu proses perkecambahan.
Sementara kebutuhan air tanaman dipenuhi melalui sumur bor yang dialirkan menggunakan saluran yang telah tersedia di lokasi.”Varietas hibrida dipilih karena memiliki ketahanan yang baik terhadap cuaca panas serta mampu menghasilkan produktivitas lebih tinggi. Ini menjadi salah satu strategi menghadapi kondisi iklim yang tidak menentu,” katanya.
Melalui kolaborasi antara Rutan Kefamenanu, petani lokal dan penyuluh pertanian, pemanfaatan lahan negara tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan sekaligus menjadi contoh bagi masyarakat dalam mengoptimalkan lahan kosong menjadi lahan pertanian produktif.
Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan kegiatan pembinaan yang produktif bagi warga binaan, sekaligus mendukung penguatan ketahanan pangan di Kabupaten TTU.
Penulis : Apson Benu/Diskominfotik TTU Editor : Frumentus Bana/Diskominfotik TTU
