Martinus Lafu Ajak Siswa SMAN Taekas Jadikan Mading sebagai Jejak Karya Generasi Muda

KEFAMENANU, NEWS – Akademisi Universitas Timor (Unimor), Dr. Martinus Lafu Salu, S.Pd., M.Pd., mengajak siswa SMA Negeri Taekas, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, membudayakan keterampilan menulis melalui majalah dinding (mading) sebagai sarana mengembangkan kreativitas dan mendokumentasikan karya generasi muda.

Ajakan tersebut disampaikan Martinus dalam kegiatan Bulan Bahasa yang diselenggarakan SMA Negeri Taekas, Sabtu (24/10/2026).

Menurut Martinus, keterampilan menulis merupakan bagian penting dalam pengembangan kemampuan akademik siswa. Melalui kegiatan menulis, peserta didik dapat menuangkan gagasan, pengalaman, pemikiran, dan imajinasi menjadi karya yang bermanfaat bagi orang lain.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, budaya membaca dan menulis perlu terus diperkuat agar generasi muda mampu memahami, mengolah, serta menyampaikan informasi secara kritis dan bertanggung jawab.

Ia menilai, peringatan Bulan Bahasa tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas literasi di lingkungan pendidikan.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan sekolah adalah mengoptimalkan mading kelas sebagai media publikasi karya siswa. Media tersebut relatif sederhana, mudah dijangkau, dan dapat dimanfaatkan untuk menampilkan beragam hasil kreativitas peserta didik.

Mading Sebagai Ruang Kreativitas SiswaMajalah dinding merupakan media komunikasi tertulis yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi sekaligus menampilkan karya siswa. Melalui mading, peserta didik dapat belajar menulis berita, artikel, opini, cerpen, puisi, dan berbagai bentuk tulisan lainnya.

Selain karya tulis, mading juga dapat memuat poster, ilustrasi, gambar bercerita, serta karya visual lain yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, melatih kreativitas, dan membangun kepercayaan diri dalam menyampaikan gagasan kepada publik.

Pengelolaan mading juga dapat mendorong kerja sama antarsiswa. Mereka dapat berbagi peran sebagai penulis, ilustrator, penyunting, dan dokumentator sehingga setiap tahapan penerbitan karya menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya, kualitas mading tidak hanya ditentukan oleh isi tulisan, tetapi juga oleh penyajian visual dan pengelolaan dokumentasi. Tata letak yang menarik, penggunaan bahasa yang jelas, serta ilustrasi yang sesuai dapat meningkatkan minat pembaca.

Bahasa yang digunakan dalam mading sebaiknya singkat, padat, jelas, dan komunikatif agar informasi mudah dipahami oleh warga sekolah.

Martinus menilai, potensi menulis siswa perlu diberi ruang untuk berkembang. Keterbatasan media publikasi dapat mengurangi kesempatan peserta didik untuk menyalurkan gagasan dan mengasah kemampuan menulisnya.

Karena itu, sekolah perlu menjadikan kegiatan mading sebagai bagian dari pembiasaan literasi, baik melalui pembelajaran di kelas maupun kegiatan ekstrakurikuler.

Karya Siswa Perlu didokumentasikanSelain mendorong produksi karya, pengelolaan mading perlu memperhatikan aspek dokumentasi. Tulisan yang telah dipajang tidak seharusnya langsung dibuang setelah masa penayangannya berakhir.

Karya-karya tersebut dapat dikumpulkan, dikelompokkan berdasarkan jenis tulisan, kemudian disimpan sebagai arsip sekolah. Dokumentasi itu dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus rekam jejak perkembangan kreativitas siswa.

Upaya tersebut juga memberikan penghargaan terhadap proses kreatif peserta didik. Tulisan yang awalnya hanya dibaca oleh warga sekolah berpeluang dikembangkan menjadi karya yang lebih matang, dipublikasikan melalui media lain, atau dihimpun dalam sebuah buku.

Menulis tidak harus dimulai dengan karya yang sempurna. Siswa dapat memulainya dari pengalaman sehari-hari, pengamatan terhadap lingkungan, peristiwa di sekolah, maupun refleksi pribadi.

Konsistensi berlatih, kemauan menerima masukan, dan proses penyuntingan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas tulisan.

Dengan demikian, mading bukan sekadar papan pajangan, melainkan ruang belajar yang dapat mempertemukan gagasan, kreativitas, dan pengalaman siswa dalam bentuk karya yang terdokumentasi.

Mading Digital Sebagai Pengembangan LiterasiSeiring perkembangan teknologi, pengelolaan mading juga dapat dikembangkan dalam format digital. Mading digital memungkinkan siswa memublikasikan dan mengakses karya melalui perangkat elektronik yang terhubung dengan internet.

Berbeda dengan mading konvensional yang hanya dapat dibaca di lokasi tertentu, mading digital berpotensi memperluas jangkauan publikasi serta memperpanjang masa akses terhadap karya siswa.

Salah satu platform yang dapat dipertimbangkan adalah Padlet, yang memungkinkan pengguna menyusun dan membagikan informasi dalam bentuk teks maupun konten visual pada papan digital.

Melalui media tersebut, siswa dapat belajar membuat konten, menyampaikan informasi, dan bekerja sama dengan teman maupun guru. Penggunaan teknologi juga dapat menjadi kesempatan untuk melatih literasi digital, termasuk kemampuan menilai informasi dan berkomunikasi secara bertanggung jawab.

Namun, penerapan mading digital perlu disesuaikan dengan ketersediaan perangkat, akses internet, serta kemampuan siswa. Pendampingan guru tetap diperlukan agar teknologi digunakan secara produktif dan aman.

Pengembangan mading digital sebaiknya berjalan beriringan dengan mading fisik sehingga siswa tetap memiliki kesempatan berkarya meskipun menghadapi keterbatasan akses teknologi.

Menjadikan Tulisan Sebagai Warisan Generasi MudaTulisan sederhana dapat menyimpan pengalaman, pemikiran, dan peristiwa yang bermakna. Ketika didokumentasikan dengan baik, karya tersebut dapat menjadi sumber pengetahuan bagi pembaca pada masa mendatang.

Pengalaman menulis melalui mading juga dapat menjadi tahap awal bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan jurnalistik, menulis kreatif, maupun menyusun karya ilmiah.

Potensi tersebut membutuhkan dukungan sekolah melalui penyediaan ruang publikasi, pendampingan guru, pembiasaan membaca, dan kesempatan bagi siswa untuk memublikasikan hasil karyanya.

Melalui pengelolaan mading yang konsisten, siswa tidak hanya belajar menghasilkan tulisan, tetapi juga memahami pentingnya menyampaikan informasi secara tepat, menyusun gagasan secara sistematis, serta menghargai karya orang lain.

Pada akhirnya, membudayakan keterampilan menulis melalui mading merupakan salah satu upaya membangun lingkungan sekolah yang mendukung literasi dan kreativitas. Karya yang dihasilkan siswa hari ini dapat menjadi jejak pembelajaran sekaligus dokumentasi perkembangan pemikiran generasi muda pada masa depan.

Penulis : Lius Salu

Editor : Frumentus Bana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *