Menerjang Arus, Menjemput Panen: Ketika Pengabdian Harus Basah oleh Banjir

KEFAMENANU NEWS,- Air berwarna cokelat pekat itu bergerak deras, memotong jalan desa menjadi aliran liar yang sulit ditebak arahnya. Setinggi kurang lebih satu meter, genangan menutup akses di bantaran kali Desa Susulaku A, Kecamatan Insana, Kamis (19/02/2026).

Genangan setinggi kurang lebih satu meter membuat akses ke lokasi panen terputus. Jalan berubah menjadi aliran keruh yang membuat siapa pun berpikir dua kali untuk melintas.

Namun siang itu, langkah seorang pemimpin tak berhenti.

Di tengah arus yang mengganas, Bupati Timor Tengah Utara, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, terlihat berjalan perlahan menembus banjir. Pakaian Korpri yang dikenakannya basah tersiram air. Topi dinas tetap bertengger di kepala.

Bupati TTU saat menerobos bantaran kali Desa Susulaku A, Kecamatan Insana, Kamis (19/02/2026).

Di kiri-kanannya, linmas, ajudan, dan warga setempat sigap menopang tubuhnya agar tetap seimbang. Jarak sekitar 20 meter harus ia tempuh untuk mencapai titik panen simbolis jagung yang telah menunggu.

Air setinggi paha hingga dada orang dewasa menerpa langkahnya. Sesekali arus menggoyahkan keseimbangan. Namun tak ada raut cemas. Tak tampak isyarat mundur.

Video momen tersebut dengan cepat beredar di media sosial dan menjadi viral. Dalam rekaman, terlihat jelas bagaimana banjir memutus akses dan mengisolasi sebagian wilayah desa.

Bagi warga Susulaku, situasi itu bukan hal ringan. Banjir tak hanya membawa lumpur, tetapi juga kekhawatiran akan gagal panen dan terhambatnya aktivitas sehari-hari.

Di tengah kecemasan itu, kehadiran bupati menjadi simbol tersendiri.

Suasana panen jagung yang berlangsung di Desa Susulaku A, Kecamatan Insana, Kamis (19/02/2026).

Bukan sekadar kunjungan kerja yang bersifat formal, melainkan pertemuan langsung dengan realitas lapangan. Warga menyaksikan sendiri bagaimana pemimpin daerah mereka memilih datang dan melihat kondisi nyata, alih-alih menunda agenda atau sekadar menerima laporan dari balik meja.

Caption dalam video yang beredar berbunyi, “Pengabdian bukan soal tempat yang nyaman, tetapi tentang hati yang siap hadir dan melayani, apapun kondisinya.”

Kalimat itu menggema dan memantik beragam respons. Banyak yang memuji tindakan tersebut sebagai cerminan kepemimpinan yang tidak berjarak dengan rakyat. Seorang pemimpin, dalam pandangan mereka, bukan hanya pengambil kebijakan, tetapi juga sosok yang bersedia berdiri—bahkan basah—bersama masyarakatnya.

Panen simbolis jagung yang menjadi tujuan kunjungan itu memang sederhana. Namun maknanya terasa lebih dalam ketika dicapai dengan perjuangan menembus arus banjir. Di lahan yang basah dan langit yang muram, panen itu menjadi simbol ketahanan—bahwa di tengah bencana, kehidupan dan harapan tetap harus dirawat.

Banjir mungkin memutus akses jalan, tetapi tidak memutus komitmen.

Di Susulaku, pengabdian hari itu tak berjalan di atas aspal kering. Ia melangkah di atas air keruh, menembus arus yang deras, dan menyapa warga tanpa sekat.

Kadang kepemimpinan memang tidak diuji di ruang rapat yang tenang, melainkan di medan yang tak nyaman. Dan di Desa Susulaku A, pengabdian itu benar-benar basah oleh kenyataan.

Penulis: Poldus Meomanu/Kominfotik TTU
Editor: Frumentus Bana/Kominfotik TTU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *