Investor Garam Industri Siap Tanam Modal di TTU, Potensi 1.000 Hektare Lahan Produksi Teridentifikasi

KEFAMENANUNEWS,– Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menyambut positif rencana investasi pengembangan garam industri oleh PT Blue Steel Industries, perusahaan yang berbasis di Batam. Investasi tersebut dinilai menjadi peluang strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya pesisir yang dimiliki Kabupaten TTU.

Pelaksana Harian (Plh) Dinas Perikanan Kabupaten TTU, Yohanes Sanak, mengatakan bahwa komitmen investor terlihat dari langkah cepat yang dilakukan setelah pertemuan antara Bupati TTU, Falent Kebo, dengan pihak PT Blue Steel Industries yang menghasilkan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Batam.

“Memang sebelumnya sudah ada beberapa investor yang masuk, tetapi belum ada kejelasan tindak lanjut. Namun untuk PT Blue Steel Industries, kami melihat keseriusan yang berbeda karena setelah penandatanganan MoU dan PKS, mereka langsung bergerak melakukan survei lapangan,” ujar Yohanes.

Menurutnya, hanya berselang satu minggu setelah penandatanganan kesepakatan kerja sama, tim investor telah turun langsung ke sejumlah lokasi potensial di wilayah TTU. Lokasi yang disurvei meliputi Kaubele, Oebubun, Oefatu, Bibhaef di Desa Oemanu, Ponu, hingga Faularan.

Dari hasil survei awal tersebut, ditemukan hamparan lahan yang sangat potensial untuk pengembangan garam industri dalam skala besar.

“Tim menemukan hamparan lahan yang cukup luas, minimal sekitar 1.000 hektare yang sangat potensial untuk pengembangan garam industri,” jelasnya.

Keseriusan investor juga ditunjukkan dengan melibatkan dua profesor ahli pergaraman dari Universitas Trunojoyo Madura untuk melakukan kajian ilmiah secara komprehensif. Kajian tersebut mencakup penelitian terhadap kondisi air laut, tingkat kelembaban udara, suhu lingkungan, hingga kadar salinitas air laut pada sejumlah titik lokasi.

Hasil penelitian menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan. Tingkat salinitas air laut di wilayah Oebubu tercatat mencapai angka 6,5, sedangkan wilayah Temkuna, Oesoko, Muara Oebubun, dan Faularan mencapai angka 5. Angka tersebut berada di atas rata-rata beberapa daerah penghasil garam lainnya di Indonesia seperti Malaka, Sabu, Rote, Sumba, dan Madura yang berkisar pada angka 3 hingga 3,5.

Selain itu, wilayah TTU juga memiliki keunggulan dari sisi kualitas garam yang dihasilkan. Berdasarkan hasil uji coba produksi sebelumnya pada lahan seluas 15 petak berukuran 50 meter, produksi garam mencapai 16 ton dengan kadar Natrium Klorida (NaCl) sebesar 98,84 persen.

“Kebutuhan industri mensyaratkan kadar NaCl minimal 98 persen. Di banyak daerah, rata-rata masih berada pada kisaran 96 hingga 97 persen. Sementara hasil yang diperoleh di TTU telah melampaui standar tersebut,” ungkap Yohanes.

Potensi besar tersebut sejalan dengan kebutuhan pasar nasional terhadap garam industri berkualitas tinggi. Yohanes mengungkapkan bahwa dalam audiensi bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Menteri KKP menegaskan pentingnya ketersediaan garam industri dengan kadar NaCl minimal 98 persen untuk memenuhi kebutuhan sektor industri dalam negeri maupun pasar internasional.

Pemerintah Kabupaten TTU optimistis investasi PT Blue Steel Industries dapat segera direalisasikan dan memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru, investasi ini diharapkan mampu mendorong TTU menjadi salah satu sentra produksi garam industri unggulan di Indonesia.

Dengan dukungan potensi alam yang memadai, kualitas garam yang memenuhi standar industri, serta komitmen kuat dari investor dan pemerintah daerah, Kabupaten TTU diyakini memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai kawasan strategis pengembangan garam industri nasional.

Penulis: Poldus Meomanu
Editor: Frumentus Bana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *