Pokja Bunda PAUD TTU Hadirkan Penyuluhan dan Pemberian Susu Tambahan Bagi Anak Stunting di Desa Fatuneno

KEFAMENANU NEWS,– Persoalan stunting di Desa Fatuneno, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), menjadi perhatian serius Kelompok Kerja (Pokja) Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kabupaten TTU.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, angka stunting di Desa Fatuneno mencapai 79 persen, dengan 66 anak masuk kategori stunting. Angka ini tercatat sebagai yang tertinggi di Kabupaten TTU.

Kondisi tersebut mendorong Pokja Bunda PAUD Kabupaten TTU untuk mengambil bagian dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak sejak usia dini.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui penyuluhan dan edukasi serta pemberian susu tambahan bagi anak balita.

Delapan Hari Pemberian Susu Tambahan bagi Anak Balita

Kegiatan pemberian susu tambahan jenis SGM berlangsung selama delapan hari, mulai Rabu, 21 Oktober 2026, bertempat di Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), Desa Fatuneno, Kecamatan Miomaffo Barat.

Kegiatan tersebut turut melibatkan tenaga kesehatan dan kader Posyandu, serta berlangsung di tengah pelayanan masyarakat yang juga diikuti warga lanjut usia.

Ketua Pokja Bunda PAUD Kabupaten TTU, Ny. Elisabeth Endang Sri Susilowati, menjelaskan bahwa pemberian susu tambahan diprioritaskan bagi anak-anak berusia di bawah lima tahun.

Menurutnya, masa balita merupakan periode penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga membutuhkan perhatian khusus, terutama dalam pemenuhan kebutuhan gizi.

Bukan Pengganti Pemulihan, tetapi Bagian dari Penyuluhan dan Edukasi

Ny. Endang menegaskan bahwa kegiatan tersebut lebih diarahkan pada penyuluhan, edukasi, dan pemberian tambahan gizi bagi anak-anak. Program ini bukan merupakan intervensi pemulihan stunting secara menyeluruh karena upaya pemulihan membutuhkan pendampingan dan pemantauan dalam jangka waktu yang lebih panjang.

“Kalau untuk pemulihan, waktunya bisa 56 hari hingga tiga bulan. Namun, semuanya bergantung pada kebutuhan, jumlah anak yang menjadi sasaran, dan dukungan anggaran yang tersedia. Karena itu, kegiatan ini lebih bersifat penyuluhan dan pemberian tambahan gizi, dengan harapan berat badan anak dapat meningkat,” jelas istri Wakil Bupati TTU ini.

Ia berharap pemberian susu tambahan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gizi anak. Namun, menurutnya, pemberian susu saja tidak cukup. Anak-anak tetap membutuhkan makanan bergizi seimbang yang disediakan secara rutin oleh keluarga untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Mendampingi Keluarga

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, Pokja Bunda PAUD Kabupaten TTU berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, kader Posyandu, bidan desa, perawat desa, serta Puskesmas setempat.

Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat memperkuat pendampingan bagi keluarga sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan pertumbuhan anak.

Selain pemberian susu tambahan dan edukasi gizi, kegiatan tersebut juga diisi dengan pengukuran berat badan anak. Pemantauan ini menjadi salah satu langkah untuk melihat perkembangan pertumbuhan anak dan membantu tenaga kesehatan menentukan tindak lanjut sesuai kebutuhan masing-masing anak.

Ny. Endang menyampaikan bahwa dukungan anggaran untuk kegiatan serupa masih tersedia pada November dan Desember 2026. Pemanfaatannya akan dibahas lebih lanjut untuk menentukan apakah pemberian susu tambahan tetap diprioritaskan di Desa Fatuneno atau diarahkan kepada desa sasaran lainnya berdasarkan kebutuhan dan pertimbangan program.

Gelang LiLA untuk Mendorong Peran Aktif Orang Tua

Selain edukasi gizi, kegiatan tersebut juga diisi dengan sosialisasi penggunaan gelang Lingkar Lengan Atas (LiLA) yang diberikan kepada orang tua sebagai bagian dari tindak lanjut program kegiatan PKK yang sebelumnya sempat tertunda.

Ny. Endang, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua TP PKK Kabupaten TTU, menjelaskan bahwa edukasi ini bertujuan mendorong orang tua agar turut berperan aktif dalam memantau kondisi anak di rumah. Menurutnya, upaya pendampingan dan pemenuhan gizi tidak boleh hanya dibebankan kepada kader Posyandu atau tenaga kesehatan, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama, terutama keluarga.

“Bergerak bersama supaya ada pendampingan. Orang tua juga perlu memahami bagaimana memantau kondisi anak dan memenuhi kebutuhan gizinya. Tanggung jawab ini bukan hanya pada kader Posyandu, tetapi juga pada orang tua,” ujarnya.

Ia berharap pemberian gelang LiLA dapat meningkatkan kepedulian orang tua terhadap kondisi pertumbuhan anak. Apabila ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada masalah gizi, orang tua diharapkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar anak memperoleh pemeriksaan dan pendampingan yang sesuai.

Ny. Endang juga mengingatkan pentingnya menyediakan makanan bergizi bagi anak setiap hari. Telur dan sumber protein lainnya dapat menjadi bagian dari menu keluarga sesuai kebutuhan anak. Ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi utama tetap menjadi tanggung jawab orang tua, dengan dukungan dan pendampingan dari tenaga kesehatan serta pihak terkait.

Fondasi Gizi yang Kuat untuk Generasi TTU yang Sehat dan Cerdas

Ny. Endang berharap kegiatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat berupa tambahan asupan gizi, tetapi juga membangun pemahaman orang tua mengenai pentingnya memperhatikan kesehatan, pola makan, dan tumbuh kembang anak sejak usia dini.

Menurutnya, usia dini merupakan fondasi penting bagi masa depan anak. Karena itu, perhatian terhadap pemenuhan gizi, pengasuhan, dan pemantauan kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

“Usia mereka adalah fondasi. Kalau fondasinya kuat, tentu akan lebih baik. Karena itu, mari kita bersama-sama membentuk generasi TTU yang sehat dan cerdas agar ke depan anak-anak kita dapat tumbuh dengan baik dan memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita,” ajak Ny. Endang.

Melalui kegiatan ini, Pokja Bunda PAUD Kabupaten TTU mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kepedulian dan kerja sama dalam mendukung tumbuh kembang anak. Penanganan stunting membutuhkan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan keluarga secara berkesinambungan, sehingga setiap anak memperoleh perhatian dan dukungan gizi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Penulis: Apson Benu/Diskominfotik TTU Editor: Frumentus Bana/Diskominfotik TTU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *