KEFAMENANU, NEWS – Pengalaman hidup yang penuh keterbatasan membawa Yakob Obe Tusala memilih jalan pengabdian melalui pendidikan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia-Timor-Leste.
Dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Yakob mendirikan Yayasan Titisan Batin Anak Indonesia (TISBATI), sebuah organisasi yang menghimpun kelompok masyarakat kreatif kampung, mahasiswa, serta kelompok belajar anak.
TISBATI dibentuk sebagai ruang untuk membangun sinergi sekaligus menjawab berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan serta kehidupan yang layak.
“Pengalaman hidup saya menjadi bagian dari alasan untuk hadir dan peduli terhadap kehidupan orang lain,” kata Yakob mengenai awal mula terbentuknya TISBATI.
Perjalanan hidup Yakob tidak lepas dari berbagai keterbatasan. Ia pernah menghadapi situasi terlantar dan harus menitipkan diri kepada keluarga maupun kenalan agar dapat melanjutkan pendidikan.

Persoalan ekonomi keluarga, keterbatasan akses pendidikan, serta kondisi masyarakat yang terpinggirkan, terpencil dan terisolir menjadi pengalaman yang kemudian membentuk kepeduliannya terhadap persoalan sosial di tanah Timor.
Menurut dia, kondisi serupa masih dihadapi sebagian masyarakat, sehingga diperlukan gerakan yang tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membangun motivasi dan kemampuan masyarakat agar mampu berkembang secara mandiri.
BERANGKAT DARI PENGALAMAN HIDUP
TISBATI merupakan yayasan independen yang bergerak dalam bidang sosial, kemanusiaan dan keagamaan. Kehadirannya diarahkan untuk mendukung program pemerintah sekaligus ikut membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Gagasan tersebut juga berkaitan dengan pesan Ta’eki Afob yang diterima Yakob ketika tokoh tersebut berusia 110 tahun. Pesannya sederhana, yakni agar Yakob mendirikan gerakan “Kasih dan Peduli Hidup” setelah menyelesaikan pendidikan.
Pesan itu kemudian menjadi salah satu landasan bagi Yakob untuk mengembangkan kegiatan sosial dan pendidikan di tengah masyarakat.
Nama TISBATI sendiri memiliki filosofi yang berkaitan dengan nama gunung dan kampung di Pulau Timor, yakni Mutis-Inbate.
Yakob menjelaskan, kata “TIS” dimaknai sebagai menitiskan, meneteskan, menuangkan, putih, tulus, bersih, berhasil atau menang. Sementara “BATI” berarti berbagi, memberi, kasih, peduli atau melayani.Dari filosofi tersebut lahir semangat “TISBATI Peduli Hidup”.

DARI ANAK HINGGA MASYATAKAT
Dalam menjalankan gerakannya, TISBATI membangun konsep yang dimulai dari balai belajar anak. Dari ruang belajar tersebut, anak diharapkan tumbuh menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan dan lingkungannya.
Konsep itu kemudian dikembangkan melalui kelompok masyarakat kreatif kampung, komunitas dan organisasi.
Bagi TISBATI, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui proses belajar bersama masyarakat. Anak-anak didorong untuk mengenali potensi diri, berani mengejar cita-cita, dan belajar dari pengalaman orang-orang yang menjadi inspirasi.
Sementara bagi masyarakat, pendampingan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan mendorong kemandirian.
Sasaran kegiatan TISBATI mencakup kelompok belajar anak, komunitas dan organisasi pemuda, masyarakat kreatif kampung, kelompok terlantar dan terpinggirkan, masyarakat di wilayah terpencil dan terisolir, perempuan dan anak, lanjut usia, serta anak yatim piatu.
Pendampingan juga diarahkan pada bidang pendidikan, kesehatan, budaya, pertanian, peternakan dan lingkungan hidup.
Semangat tersebut dirangkum dalam konsep yang disebut “Motivator Berselimut”.

Istilah itu digunakan TISBATI untuk menggambarkan dukungan dan kepedulian dari berbagai pihak terhadap masyarakat yang membutuhkan pendampingan.
Yakob membuka ruang bagi individu, kelompok, pemerintah maupun pihak swasta untuk terlibat dalam gerakan tersebut sebagai mitra pendukung.
“Kami ingin membangun kepedulian yang tidak berhenti pada bantuan, tetapi juga memberikan motivasi agar masyarakat mampu melihat potensi dan masa depannya,” ujarnya.
MENJAGA MIMPI DARI PERBATASAN
Gerakan TISBATI berangkat dari sebuah wilayah yang selama ini identik dengan kawasan perbatasan. Namun, bagi Yakob, keterbatasan geografis bukan alasan untuk membatasi mimpi anak-anak dan masyarakat.
Melalui kelompok belajar dan kegiatan pemberdayaan, yayasan tersebut berupaya memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar dan mengenal berbagai kemungkinan bagi masa depan mereka.

Kiprah tersebut kemudian mendapat perhatian melalui sejumlah pemberitaan dan tayangan media, antara lain program “Kick Andy” Metro TV dalam episode “Mengejar Mimpi Yakub Obe Tusala”, Majalah Warta Flobamora, serta pemberitaan media lokal mengenai upaya membangun perpustakaan kampung.
TISBATI juga tercatat secara hukum melalui Akta Notaris Nomor 53 tanggal 19 Mei 2016 dan Surat Keputusan Kementerian Hukum dan HAM Nomor AHU.0025707.AH.01.04 Tahun 2016.
Kini, dari kawasan perbatasan TTU, Yakob bersama TISBATI terus membawa satu gagasan sederhana: kepedulian terhadap hidup harus dimulai dari manusia dan lingkungan terdekat.
Gagasan itu dirumuskan dalam visi TISBATI, “Peduli Hidup”, dengan misi melahirkan generasi yang mencintai potensi hidup, membina dan memberdayakan masyarakat, serta meningkatkan kapasitas masyarakat menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
Bagi TISBATI, “dua selimut untuk dunia” yang menjadi mottonya bukan sekadar ungkapan, melainkan ajakan untuk menghadirkan kasih dan kepedulian sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, terutama mereka yang berada di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan.
Penulis : Lius Salu
Editor : Frumentus Bana
