TTU Siap Jadi Lumbung Garam, Bupati dan Pimpinan Investor Turun Lakukan Sosialisasi

KEFAMENANU NEWS,– Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, S.IP., M.A., bersama Presiden Direktur PT Blue Steel Industries, Benny Lau, turun langsung melakukan sosialisasi investasi pengembangan tambak garam kepada pemilik lahan di Desa Oepuah Utara, Kecamatan Biboki Moenleu, Kamis (11/6/2026).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Kabupaten TTU dan PT Blue Steel Industries yang dilakukan di Batam pada awal Mei 2026.

Dipusatkan di Aula Kantor Desa Oepuah Utara, sosialisasi yang dimulai pukul 14.00 WITA itu disambut antusias masyarakat. Rombongan diterima dengan prosesi adat takanab dan pengalungan selendang oleh tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, serta para pemilik lahan calon lokasi tambak garam.

Investasi untuk Lapangan Kerja dan Kemajuan TTU

Dalam sambutannya, Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo mengatakan bahwa pengembangan industri garam di wilayah Pantai Utara bukan sekadar investasi, tetapi menjadi langkah strategis untuk membuka lapangan kerja dan mengurangi angka pengangguran di daerah.

Menurutnya, potensi yang dimiliki TTU sangat besar. Selain produksi garam, sisa air laut hasil pengolahan dapat dimanfaatkan menjadi air layak minum bahkan dipasarkan sebagai air minum kemasan melalui kerja sama dengan PDAM Tirta Cendana Kefamenanu.

“Kalau ini berjalan maka TTU akan sedikit terlepas dari ketertinggalan, terutama dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi angka pengangguran. Semoga bisa segera terealisasi sehingga mampu membuka isolasi ketertinggalan kita,” ujar Bupati.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendukung pembangunan daerah demi mewujudkan TTU yang lebih maju dan sejahtera.

PT Blue Steel: TTU Jadi Lokasi Strategis Industri Garam

Presiden Direktur PT Blue Steel Industries, Benny Lau, menjelaskan bahwa perusahaannya tidak hanya bergerak di bidang industri garam, tetapi juga memproduksi berbagai material konstruksi, galangan kapal nelayan hingga kapal pengangkut minyak, serta baja ringan berkualitas tinggi.

Menurut Benny, investasi di TTU memiliki tujuan utama untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nusa Tenggara Timur.”Yang paling penting adalah menciptakan lapangan kerja demi membangun kesejahteraan di negara yang kita cintai, terutama di NTT. Kami sudah melakukan investasi garam di Sabu dan TTU menjadi tujuan kedua,” katanya.

Ia menilai kawasan Pantai Utara TTU memiliki karakteristik iklim kemarau panjang yang sangat ideal untuk pengembangan industri garam berskala besar.

Tambak Garam dan Pabrik Garam Akan Dibangun

Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten TTU, Drs. Yohanes Sanak, M.A., menambahkan bahwa investasi ini tidak hanya mencakup pembangunan tambak garam, tetapi juga akan dibangun pabrik pengolahan garam. Setelah penandatanganan MoU dan PKS di Batam, tim PT Blue Steel Industries langsung melakukan survei lapangan di sejumlah lokasi potensial di TTU.

Dari hasil sosialisasi dan dialog bersama masyarakat, disepakati beberapa poin penting, seperti, skema kerja sama bagi hasil, Pajak bumi dan bangunan ditanggung perusahaan, perekrutan tenaga kerja lokal, Pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), termasuk pemberian beasiswa.”Sekali tambak garam, tetap tambak garam. Ini betul-betul tambak garam yang profesional,” tegas Yohanes Sanak.

Kajian Ilmiah Ungkap Potensi Garam TTU Sangat Menjanjikan

Sebelumnya, PT Blue Steel Industries menggandeng dua profesor ahli pergaraman dari Universitas Trunojoyo Madura untuk melakukan kajian ilmiah secara komprehensif di sejumlah wilayah pesisir TTU.Kajian tersebut meliputi penelitian terhadap kualitas air laut, tingkat kelembaban udara, suhu lingkungan, hingga kadar salinitas di berbagai titik lokasi.

Hasil penelitian menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan. Tingkat salinitas air laut di Oebubu mencapai 6,5, sementara Temkuna, Oesoko, Muara Oebubun, dan Faularan berada di angka 5. Nilai tersebut jauh di atas rata-rata beberapa sentra garam di Indonesia seperti Malaka, Sabu, Rote, Sumba, dan Madura yang berkisar antara 3 hingga 3,5.

Tak hanya itu, uji coba produksi pada lahan seluas 15 petak berukuran 50 meter menghasilkan 16 ton garam dengan kadar Natrium Klorida (NaCl) mencapai 98,84 persen, menunjukkan kualitas garam TTU yang sangat kompetitif.

Dengan dukungan potensi alam, kajian ilmiah, investasi swasta, serta dukungan pemerintah dan masyarakat, Kabupaten TTU kini bersiap mewujudkan cita-cita menjadi salah satu sentra produksi garam unggulan di Indonesia sekaligus motor penggerak pertumbuhan ekonomi di kawasan perbatasan Nusa Tenggara Timur.

Penulis: Apson Benu/Diskominfotik TT U Editor: Frumentus Bana/Diskominfotik TTU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *