KEFAMENANU, NEWS – Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Yosep Falentinus Delasalle Kebo bersama Wakil Bupati Kamillus Elu meresmikan fasilitas air bersih di Sonaf Keba Dusun Feku, Desa Noelelo, Kecamatan Mutis, Kabupaten TTU, Nusa Tenggara Timur, Minggu.
Peresmian fasilitas air bersih itu ditandai dengan pemotongan pita di sumber mata air Oel Keba, yang dilanjutkan dengan ritual adat Hai’nik oleh masyarakat setempat.
Ritual adat tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, leluhur, dan Tuhan Yang Maha Kuasa, sekaligus sebagai bagian dari upaya masyarakat menjaga sumber mata air yang selama ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air warga di Desa Noelelo.
Bupati Yosep mengatakan keberadaan sumber mata air tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat sehingga harus dijaga secara bersama-sama agar dapat dimanfaatkan hingga generasi mendatang.
“Hari ini saya ditemani Wakil Bupati bersama seluruh orang tua adat di Desa Noelelo, Kecamatan Mutis, seluruh perangkat desa, camat, pemangku adat dan seluruh masyarakat melakukan ritual adat untuk air yang selama ini menghidupi sebagian masyarakat yang hidup di Noelelo,” katanya.
Ia meminta para tetua adat dan masyarakat setempat terus menjaga kelestarian sumber mata air tersebut karena menjadi salah satu sumber kehidupan bagi masyarakat di wilayah itu.
“Ini sesuatu yang luar biasa sehingga kita meminta kepada orang tua mereka tetap menjaga mata air ini sampai turun-temurun karena di sinilah sumber air yang akan turun ke bagian bawah ke desa,” ujarnya.
Menurut Yosep, ritual adat tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah bersama masyarakat dalam melestarikan budaya lokal.
Ia mengatakan kunjungan menuju sumber mata air dilakukan bersama Wakil Bupati, jajaran pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pemangku adat, dan masyarakat.
“Ritual adat ini penting karena sebagai salah satu upaya menjalankan warisan budaya dan merawat budaya adat itu sendiri. Puji Tuhan ritual adat sudah selesai,” katanya.
Kunjungan tersebut, kata dia, juga memberikan gambaran mengenai potensi daerah yang masih belum banyak tersentuh pembangunan, termasuk potensi sumber daya alam dan budaya di wilayah Kecamatan Mutis.
“Jadi menurut orang tua adat, kita (Bupati dan Wakil Bupati) pemecah rekor naik pertama ke sumber air di Mutis. Ini luar biasa, banyak potensi daerah kita tersembunyi dan tidak tersentuh sehingga harus dioptimalkan,” ujarnya.
Para tetua adat setempat menyebut kunjungan Bupati dan Wakil Bupati bersama jajaran pemerintah daerah ke lokasi sumber mata air itu merupakan yang pertama sejak 1756.
Keterangan tersebut disampaikan para tetua adat berdasarkan penuturan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Dengan demikian, klaim tersebut merupakan keterangan dari masyarakat adat dan belum didukung dokumentasi sejarah yang disebutkan dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, Camat Mutis menjelaskan pembangunan dan pengelolaan fasilitas air bersih di wilayah tersebut tidak terlepas dari gotong royong masyarakat.
Dengan keterbatasan sarana, prasarana, dan sumber daya, masyarakat secara swadaya berupaya mengalirkan air dari sumber mata air hingga ke rumah-rumah warga.
Masyarakat juga secara mandiri membuat sejumlah perlengkapan pendukung jaringan perpipaan agar sistem distribusi air tetap berfungsi.
“Yang luar biasa adalah ketika sampai di tikungan pipa, mau dibuat dengan cara bagaimana? Masyarakat secara otodidak membuatnya menjadi baik dan sampai sekarang tetap berfungsi dan dipergunakan dengan baik,” kata Camat Mutis.
Kehadiran Bupati dan Wakil Bupati di Dusun Feku mendapat apresiasi dari pemerintah kecamatan dan masyarakat. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk mendengar langsung berbagai aspirasi masyarakat terkait kebutuhan pembangunan di wilayah Kecamatan Mutis.
Masyarakat berharap dukungan pemerintah daerah terhadap pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya akses air bersih, dapat terus ditingkatkan sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan hingga wilayah pedesaan.
Penulis : Lius Salu
Editor : Frumentus Bana
