KEFAMENANU, NEWS – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menggelar kegiatan Pelatihan Pendidikan Inklusif bagi guru, pengawas, dan kepala sekolah selama dua hari, 18–19 Mei 2026, di Hotel Ariesta Kefamenanu.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Program INOVASI NTT District TTU bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTU sebagai upaya memperkuat penerapan pendidikan inklusif di wilayah TTU.
Peserta pelatihan terdiri dari staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, empat kepala sekolah, lima pengawas, serta 31 guru yang berasal dari 24 kecamatan di Kabupaten TTU.
Pelatihan menghadirkan tiga narasumber yang berpengalaman di bidang pendidikan inklusif, yakni narasumber dari INOVASI Jakarta Pusat, Universitas Negeri Yogyakarta, serta SD Penyelenggara Pendidikan Inklusif Kabupaten Malang. Selain itu, kegiatan juga didampingi dua fasilitator lokal.
Kegiatan dibuka secara langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan TTU, Beato Yoseph FR Omenu. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Program INOVASI atas kolaborasi dan komitmen dalam mendukung pemenuhan hak pendidikan yang setara bagi seluruh anak.
“Saya mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada Program INOVASI atas kolaborasi dan komitmen yang luar biasa ini. Kerja sama ini menjadi bukti bahwa pemenuhan hak pendidikan yang setara tidak bisa dijalankan sendiri oleh pemerintah, tetapi membutuhkan sinergi dan kemitraan yang kuat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang hadir dan menilai keterlibatan para guru menunjukkan kepedulian besar terhadap masa depan anak-anak tanpa terkecuali.
Menurut Beato Yoseph, pendidikan inklusif bukan sekadar menempatkan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler, tetapi bagaimana sekolah, kurikulum, dan tenaga pendidik mampu menerima serta merangkul keberagaman setiap anak.
“Pendidikan inklusif adalah tentang keadilan sosial. Tugas kita sebagai pendidik bukan memaksa semua anak menjadi sama, tetapi menyediakan jembatan agar mereka dapat mencapai potensi terbaiknya. Tidak boleh ada satu anak pun yang tertinggal,” tegasnya.
Ia mengakui penerapan pendidikan inklusif di lapangan memiliki berbagai tantangan karena setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan hambatan belajar yang berbeda, baik fisik, mental, intelektual, maupun sensorik.
Karena itu, melalui pelatihan tersebut, para peserta diharapkan mampu mengubah pola pikir dalam memandang keterbatasan anak, meningkatkan keterampilan dalam asesmen diagnostik, adaptasi kurikulum, serta menciptakan media pembelajaran yang ramah bagi semua anak.
Selain itu, para peserta juga didorong membangun komunitas belajar untuk saling berbagi praktik baik antar sekolah dalam menangani anak berkebutuhan khusus.
Beato Yoseph berharap pelatihan tersebut tidak hanya menghasilkan sertifikat semata, tetapi mampu menghadirkan perubahan nyata dalam proses pembelajaran di sekolah.
“Jadikan kelas Anda tempat yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang bagi semua anak,” tutupnya.
Sementara itu, Koordinator Ekosistem INOVASI NTT, Baselius Bengoteku, mengatakan Program INOVASI terus mendukung program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait pendidikan inklusif melalui pelatihan bagi pengawas, kepala sekolah, dan guru SD.
Menurutnya, salah satu perubahan penting yang harus dibangun melalui pelatihan tersebut adalah tumbuhnya rasa memiliki dan kepedulian sosial dalam menangani anak berkebutuhan khusus.
Sedangkan Inclusive Education Specialist INOVASI Jakarta, Eni Martina, menjelaskan pelatihan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta mengenai konsep pendidikan inklusif sekaligus membekali keterampilan dalam melaksanakan pembelajaran yang melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah negeri tanpa diskriminasi.
Penulis : Lius Salu
Editor : Frumentus Bana
