KEFAMENANU, NEWS – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menggelar kegiatan Pembinaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) tingkat Kabupaten TTU di Aula DP2KB TTU, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan tersebut merupakan upaya memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten TTU.
Pembinaan dibuka oleh Wakil Bupati TTU, Kamillus Elu, dan dihadiri peserta dari organisasi perangkat daerah (OPD), para pemangku kepentingan, calon pemberi bantuan Orang Tua Asuh (OTA) yang terdiri atas BUMN, BUMD, perusahaan swasta, perorangan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), perguruan tinggi, akademisi, serta mitra pengumpul donasi.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Kamillus Elu menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menggagas, mendukung, dan berkomitmen menyukseskan pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah menggagas, mendukung, serta berkomitmen menyelenggarakan kegiatan ini. Kehadiran kita hari ini merupakan wujud nyata semangat kolaborasi untuk melindungi generasi penerus bangsa dari ancaman stunting,” ujarnya.
Kamillus mengatakan Pemerintah Kabupaten TTU telah menetapkan pembangunan sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan berdaya saing sebagai salah satu sasaran utama pembangunan daerah. Menurutnya, target tersebut tidak akan tercapai apabila persoalan stunting masih menjadi tantangan karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, kesehatan, kecerdasan, hingga produktivitas generasi penerus.
Karena itu, setiap upaya pencegahan stunting merupakan investasi strategis dalam pembangunan manusia di Kabupaten TTU.Ia menegaskan, perlindungan anak menuju TTU Emas 2045 menjadi salah satu program prioritas Bupati dan Wakil Bupati TTU.
Visi tersebut mengandung makna bahwa setiap anak harus tumbuh dalam lingkungan yang aman dan sehat, memperoleh pengasuhan yang baik, serta mendapatkan hak-hak dasarnya, termasuk pemenuhan gizi yang cukup, seimbang, dan berkualitas.
Menurutnya, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) merupakan wujud nyata komitmen bersama untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal akibat keterbatasan akses terhadap gizi maupun pendampingan keluarga.
Melalui gerakan tersebut, pemerintah menggandeng masyarakat, dunia usaha, BUMN, BUMD, akademisi, organisasi kemasyarakatan, komunitas, lembaga keagamaan, serta seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mendukung upaya pencegahan stunting.
“Keberhasilan GENTING bukan hanya diukur dari menurunnya angka stunting, tetapi juga dari semakin banyak anak Timor Tengah Utara yang tumbuh sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menjadi generasi unggul yang akan membawa daerah ini menuju masa depan yang lebih maju,” katanya.
Wakil Bupati juga mengajak seluruh pihak untuk berpartisipasi sebagai Orang Tua Asuh dan menjadikan GENTING sebagai gerakan bersama. Menurutnya, sekecil apa pun kontribusi yang diberikan akan menjadi investasi besar bagi masa depan anak-anak TTU.
“Kita perlu membangun kepedulian sosial yang berkelanjutan agar setiap anak yang berisiko stunting memperoleh perhatian dan pendampingan yang memadai demi terwujudnya sumber daya manusia Kabupaten Timor Tengah Utara yang unggul, inovatif, berdaya saing, serta mewujudkan cita-cita TTU Emas 2045,” ujarnya.
Kamillus berharap kegiatan pembinaan tersebut mampu membangun kesamaan persepsi, memperkuat kapasitas, serta meningkatkan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam mengimplementasikan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting di Kabupaten TTU.
“Saya percaya, ketika pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan berjalan seiring dalam semangat kolaborasi dan gotong royong, maka tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk kita atasi. Bersama, kita dapat melahirkan generasi Timor Tengah Utara yang sehat, cerdas, tangguh, dan mampu menjadi pelaku pembangunan di masa depan,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala DP2KB Kabupaten TTU, Basilius Funan Haumein, mengatakan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting telah mulai dijalankan sejak 2025 sebagai wadah untuk mengakomodasi seluruh mitra yang memiliki kepedulian dalam penanganan stunting.
Menurutnya, banyak pihak yang selama ini telah memberikan bantuan, namun belum seluruhnya berbasis data sehingga sasaran penerima belum optimal. Karena itu, DP2KB menyediakan data keluarga berisiko stunting agar bantuan yang disalurkan tepat sasaran.
“Kita menyediakan data keluarga berisiko stunting, kemudian meminta para mitra membantu keluarga yang masuk kategori tersebut sehingga penanganannya lebih efektif,” ujarnya kepada wartawan di sela-sela kegiatan.
Basilius menjelaskan, pada 2026 pihaknya menargetkan sebanyak 1.670 keluarga berisiko stunting mendapat pendampingan melalui program GENTING. Bantuan dari para mitra dapat berupa dukungan nutrisi maupun nonnutrisi.
“Bantuan nonnutrisi bisa berupa penyediaan air bersih maupun edukasi kepada keluarga sasaran,” katanya.
Ia menambahkan, tiga kecamatan yang saat ini menjadi kantong stunting terbesar di Kabupaten TTU adalah Kecamatan Mutis, Miomaffo Barat, dan Insana Tengah.
Berdasarkan hasil pengukuran tahun 2025, prevalensi stunting di Kabupaten TTU tercatat sebesar 30,1 persen atau sekitar 5.080 balita masuk dalam kategori stunting.
“Kita memiliki target untuk terus menurunkan prevalensi stunting sebagaimana telah ditetapkan dalam RPJMD dan Renstra hingga akhir masa kepemimpinan Bupati TTU,” pungkasnya.
Penulis: Lius Salu
Editor: Frumentus Bana
