Kisah Elisabeth, Siswi Asal Papua dalam Pembukaan Pameran Literasi di TTU

KEFAMENANU NEWS,- Air mata Elisabeth Degei (14) mengalir haru saat momen pembukaan Pameran Literasi Pendidikan antar Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S-SD) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS – SMP) se-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) di lapangan upacara kantor bupati setempat, Kamis (30/4/2026).

Berdiri penuh percaya diri di barisan paling depan. Sambil menggenggam suling bambu, napasnya teratur rapi sambil meniup alat musik tradisional itu dalam alunan Instrumen “Bolelebo” bersama teman-teman lainnya dari SMPS Mimbar Budhi, Manufui.

Para siswa SMPS Mimbar Budhi, Manufui saat pose bersama Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, S.Ip., M.A di depan stand MKKS Biboki dalam suasana pembukaan Pameran Literasi Pendidikan antar K3S-SD dan MKKS – SMP se-Kabupaten TTU di lapangan upacara kantor Bupati TTU, Kamis (30/4/2026). (Foto : Apson)

Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, S.Ip., M.A, saat keluar dari stand MKKS Biboki usai melakukan peninjauan, langsung menyapa para pemain musik suling bambu.

Perbincangan pun berlangsung beberapa menit, khususnya dengan Elisabeth. Tak disangka, sebuah tawaran tulus dari Bupati TTU berupa bantuan biaya pesawat agar Elisabeth bisa pulang ke Papua saat Natal, menemui ayah dan saudara-saudaranya di kala libur.

Pelukan yang Menguatkan di Tengah Tangis

Air mata Elisabeth pun tak terbendung. Jatuh tanpa aba-aba. Kedua tangannya mengusap pipi, matanya terpejam rapat dalam balutan air mata.

Di tengah tangis hening dalam suasana riuh itu, Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo mendekat lalu menepuk pundaknya. “Kamu harus kuat,” ucapnya pelan, penuh makna. Kata-kata sederhana itu menjadi jangkar di tengah gelombang kesedihannya.

Para pelajar SMPS Mimbar Budhi saat memainkan alat musik tradisional suling bambu dalam momen pembukaan Pameran Literasi Pendidikan antar K3S-SD dan MKKS – SMP se-Kabupaten TTU di lapangan upacara kantor bupati setempat, Kamis (30/4/2026). (Foto : Apson)

Mendengar itu, air mata Elisabeth makin senduh. Bukan karena lemah, tetapi karena haru yang terlalu diam. Kapolres TTU, AKBP Eliana Papote turut memeluknya.

Teman-temannya pun ikut terbawa suasana hingga mengelilingi Elisabeth, merangkulnya erat demi menghadirkan kehangatan yang mungkin sedikit menggantikan pelukan keluarga yang jauh di sana.

Cita-cita Suci di Tengah Keterbatasan

Di balik mata yang berkaca-kaca, Elisabeth menyimpan sebuah cita-cita. Ia ingin menjadi seorang suster. Sebuah panggilan hidup membiara dalam pengabdian total kepada Tuhan: menjadi pendoa bagi keluarga, melayani umat, dan membangun relasi yang lebih dalam dengan Tuhan.

“Saya bercita-cita ingin menjadi suster,” ucapnya tegas saat diwawancarai jurnalis Diskominfotik TTU.

Mimpi itu lahir bukan dari kenyamanan, tetapi dari sebuah perjuangan, kehilangan sang ibu, dari kesepian dan dari kerinduan yang tak pernah hilang.

Dari Papua ke TTU, Membawa Harapan Usai Kehilangan Sosok Sang Ibu

Elisabeth Degei (14), gadis kelahiran Diyegi, Papua, 17 Agustus 2012 ini bukan sekadar siswi biasa. Ia adalah anak sulung dari tujuh bersaudara yang harus belajar tegar lebih cepat dari usianya. Tahun 2024 menjadi titik kenangan duka mendalam dalam hidupnya.

Ibunya, Agustina Pugiye, meninggal dunia saat Elisabeth baru duduk di bangku kelas VII. Betapa menyedihkan, ia tak sempat melihat wajah terakhir sang ibu yang lebih dulu ke singgasana. Baru dua minggu tiba di TTU untuk melanjutkan pendidikan, kabar duka itu datang dan menetap sebagai luka yang tak kasat mata.

Kini, ayahnya, Yubertus Kegou, bersama enam adiknya masih berada di Nabire, Papua. Jarak yang memisahkan selalu terobati dengan telepon dan video call yang menjadi pelipur rindu, meski tak pernah cukup mengobati.

Kapolres TTU, AKBP Eliana Papote saat memeluk Elisabeth Degei (14). (Foto : Apson)

Sekolah sebagai Rumah Kedua

Saat ini, Elisabeth menempuh pendidikan di SMP Swasta Mimbar Budhi, Manufui sebagai siswi kelas VIII. Di sekolah ini, ia bukan satu-satunya anak dari Papua. Ada juga enam siswa lainnya dari Papua.

Menurut Kepala Sekolah SMPS Mimbar Budhi, Yuventha Theresia Lake, S.Pd, ketujuh siswa asal Papua tersebut dibawa oleh pihak Panti Sosial Susteren OSF yang berlokasi di wilayah Biboki Selatan, Kabupaten TTU. Mereka tinggal di sana dan disekolahkan dengan layak. “Jarak dari panti ke sekolah sekitar 100 meter,” pungkasnya.

Kepala Sekolah SMPS Mimbar Budhi, Yuventha Theresia Lake, S.Pd. (Foto : Apson)

Lebih lanjut, Yuventha, menjelaskan, selain bermain musik suling bambu, Elisabeth memiliki bakat bernyanyi. Namun, setiap kali tampil, terutama di momen-momen seperti Natal, air matanya kerap jatuh tanpa bisa ditahan. Seolah setiap nada yang ia nyanyikan selalu membawa pulang kenangan.

Di SMPS Mimbar Budhi, kata Yuventha, tidak ada pungutan biaya sepeserpun, tanpa diskriminasi, dan tanpa sekat perbedaan RAS. Perbedaan latar belakang bukan penghalang, justru menjadi kekuatan untuk saling memahami.

Para pelajar SMPS Mimbar Budhi saat memainkan alat musik tradisional suling bambu dalam momen pembukaan Pameran Literasi Pendidikan antar K3S-SD dan MKKS – SMP se-Kabupaten TTU di lapangan upacara kantor bupati setempat, Kamis (30/4/2026). (Foto : Apson)

Melalui Tema Hardiknas 2026, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” menemukan wujud nyatanya dalam sosok Elisabeth.

Nada suling bambu itu mungkin telah berhenti. Namun kisahnya akan terus bergema. Tentang seorang gadis kecil dari Papua yang menenun rindu, menahan luka, dan berjalan perlahan menuju cita-citanya: menjadi suster, menjadi terang bagi sesama.

Penulis : Apson Benu/Diskominfotik TTU Editor : Frumentus Bana/Diskominfotik TTU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *