KEFAMENANU, NEWS – Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Benpasi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, untuk pertama kalinya menggelar Misa Komuni Pertama bagi peserta didiknya di lingkungan sekolah.
Misa yang diikuti sekitar 22 siswa tersebut dipimpin Pastor Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu, RD. Gabriel Alos, Pr, didampingi RD. Marthin Nahak dan Diakon Derry.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Ambrosius Kodo, Kepala SLBN Benpasi Yustina Metan Bitin Berek, para guru, serta orang tua peserta Komuni Pertama.
Selain Misa Komuni Pertama, kegiatan tersebut dirangkai dengan peresmian dan pemberkatan gedung baru SLBN Benpasi.
Romo Gabriel Alos mengatakan, para siswa yang menerima Komuni Pertama merupakan anak-anak yang memiliki kesempatan untuk terus bertumbuh dalam iman melalui pendampingan keluarga, sekolah, dan Gereja.
“Anak-anak kita sudah terdaftar sebagai penerima Komuni Pertama. Kepada orang tua dan guru pendamping diharapkan terus mendidik dan mendampingi mereka agar iman mereka dapat berkembang dan bertumbuh,” katanya.
Sementara itu, Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo menyampaikan apresiasi kepada pihak SLBN Benpasi yang telah memberikan kesempatan kepadanya untuk hadir dalam perayaan tersebut.
Ia mengatakan, kehadirannya menjadi pengalaman pertama untuk melihat secara langsung kondisi dan aktivitas di dalam lingkungan SLBN Benpasi.
“Ketika diundang oleh kepala sekolah, saya langsung mengiyakan karena saya juga ingin mengetahui seperti apa kondisi di dalam. Ternyata sangat bagus, apalagi gedungnya baru direnovasi,” katanya.
Menurut dia, keberadaan guru dan tenaga pendidik yang dengan penuh kesabaran mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus merupakan bentuk pengabdian yang patut diapresiasi.
“Kadang dalam kesibukan sehari-hari kita lupa bahwa ada anak-anak yang membutuhkan perhatian seperti ini. Saya berterima kasih kepada guru-guru yang dengan hati ikhlas, sabar, dan penuh kasih sayang mengurus anak-anak kita di sini,” ujarnya.
Bupati juga menegaskan bahwa anak-anak penyandang disabilitas memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan apabila mendapatkan pendidikan dan pendampingan yang baik.
Ia mengaku pernah melihat secara langsung kemampuan penyandang disabilitas yang bekerja di salah satu unit ketika dirinya bertugas di Jakarta.
“Saya tahu kemampuan mereka. Kalau dididik dengan baik, anak-anak ini pasti akan menjadi orang hebat pada saatnya nanti,” katanya.
Bupati Falent juga membuka peluang bagi Pemerintah Kabupaten TTU untuk memberikan dukungan terhadap SLBN Benpasi sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.
“Walaupun ini merupakan tanggung jawab provinsi, karena sekolah ini berada di TTU, kita tidak menutup mata, telinga, dan hati. Kalau ada yang dibutuhkan dan Pemda TTU bisa membantu, silakan bersurat. Kita akan bantu sesuai kemampuan dan aturan yang berlaku,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Ambrosius Kodo mengatakan, pelaksanaan Komuni Pertama di SLBN Benpasi merupakan momentum penting karena pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tidak hanya berkaitan dengan pengembangan kemampuan akademik dan keterampilan, tetapi juga pembentukan kehidupan spiritual.
Ia menyampaikan selamat kepada para siswa dan orang tua yang mengikuti Komuni Pertama.
“Anak-anak hari ini boleh menerima Komuni Pertama, mengenal Yesus dan menyatu dengan Yesus. Semoga Tuhan selalu menyertai mereka dalam perjalanan kehidupan,” katanya.
Ambrosius juga mengapresiasi perubahan kondisi gedung SLBN Benpasi yang kini lebih baik setelah mendapatkan dukungan melalui program revitalisasi satuan pendidikan.
Namun, menurut dia, fasilitas yang baik harus diikuti dengan peningkatan kompetensi guru.
“Kompetensi guru adalah hal yang pertama dan utama. Guru yang berkompeten tentu dapat membawa anak-anak melihat masa depan mereka yang lebih baik,” katanya.
Ia juga mengajak jajaran sekolah di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi NTT untuk terus membangun komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten TTU.
Menurut dia, meskipun SLBN Benpasi merupakan kewenangan pemerintah provinsi, para peserta didik yang belajar di sekolah tersebut merupakan bagian dari masyarakat TTU sehingga dukungan pemerintah daerah tetap penting.
Ambrosius juga menyampaikan apresiasi kepada pihak SLBN Benpasi dan Pastor Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu yang telah memberikan pelayanan keagamaan kepada para siswa.
Sementara itu, Kepala SLBN Benpasi Yustina Metan Bitin Berek mengatakan pelaksanaan Komuni Pertama di sekolah merupakan hasil dari proses pendampingan iman yang melibatkan Gereja, sekolah, orang tua, dan para guru.
Ia menjelaskan, pihak sekolah sengaja mengusulkan pelaksanaan Misa di lingkungan sekolah karena kondisi dan kebutuhan setiap anak berkebutuhan khusus berbeda.
“Ada anak yang tidak mau bepergian, ada yang membutuhkan perhatian khusus, dan ada pula yang merasa lebih nyaman berada di lingkungan sekolah. Karena itu kami berinisiatif menyampaikan kepada Pastor Paroki dan niat tersebut disambut baik,” katanya.
Menurut Yustina, pelaksanaan Misa di sekolah bukan dimaksudkan untuk mengambil alih peran Gereja, tetapi memberikan ruang yang lebih ramah dan nyaman bagi anak-anak untuk mengikuti peristiwa iman.
“Bagi saya ada sesuatu yang indah dalam momen sederhana ini. Gereja hadir mendekati anak-anak kami dan sekolah menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk merayakan peristiwa iman sesuai kebutuhan dan kondisi yang mereka alami,” ujarnya.
Yustina juga menyampaikan sejumlah tantangan yang masih dihadapi SLBN Benpasi, antara lain keterbatasan ruang belajar dan kendaraan operasional untuk mengantar dan menjemput siswa.
Ia mengatakan saat ini terdapat sekitar 22 rombongan belajar, sementara sekolah hanya memiliki 10 ruang kelas.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, pihak sekolah berencana mengembangkan fasilitas pendidikan di lahan seluas sekitar 19.890 meter persegi di wilayah Sasi KM 7 yang merupakan hibah dari salah seorang donatur, Gregorius Alesiono.
Menurut Yustina, pemerintah provinsi telah merencanakan pengembangan fasilitas sekolah di lokasi tersebut, termasuk pembangunan sekitar 12 ruang belajar melalui dukungan pemerintah pusat.
“Karena itu kami memohon dukungan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten agar pengembangan SLBN Benpasi dapat berjalan dan anak-anak kami mendapatkan fasilitas pendidikan yang lebih baik,” katanya.
Selain fasilitas pendidikan, Yustina mengatakan SLBN Benpasi juga terus mengembangkan prestasi siswa melalui berbagai kegiatan dan kompetisi, termasuk ajang olahraga bagi penyandang disabilitas di tingkat provinsi hingga nasional.
Ia berharap dukungan berbagai pihak dapat terus diberikan sehingga siswa SLBN Benpasi memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi dan berprestasi.
“Anak-anak luar biasa juga mau bersaing, memiliki kemampuan, dan memiliki kesempatan untuk berkembang seperti anak-anak lainnya,” katanya.
Penulis : Lius Salu
Editor : Frumentus Bana
