KEFAMENANU, NEWS – Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Yosep Falentinus Delasalle Kebo menghadiri Dialog Fraternidade Umana yang diselenggarakan Região Administrativa Especial de Oe-Cusse Ambeno (RAEOA), Timor-Leste, di Gedung 1 de Maio, Palaban, Oe-Cusse Ambeno, Jumat (25/9).
Dialog tersebut menjadi ruang untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, toleransi, solidaritas, dan kerja sama antara masyarakat Indonesia dan Timor-Leste, khususnya masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati TTU menekankan bahwa perbatasan Indonesia-Timor-Leste di Pulau Timor tidak semestinya menjadi penghalang bagi hubungan persaudaraan masyarakat yang telah terjalin sejak lama.

“Berbicara Timor, khususnya Kabupaten TTU dan Oekusi, ini adalah satu wilayah yang tidak terpisahkan,” kata Yosep saat menyampaikan pandangannya dalam dialog tersebut.
Yosep yang menyampaikan pandangan dalam tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, Dawan, dan Tetum, terlebih dahulu memperkenalkan latar belakang dirinya yang lahir dan besar di Bidau, Dili, serta menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Oe-Cusse.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di AKABRI pada 1996 sebelum kembali dan mengikuti proses politik di Kabupaten TTU hingga terpilih sebagai bupati.
Dalam dialog itu, Yosep juga menyinggung sejarah hubungan Oe-Cusse dan wilayah TTU, termasuk persaingan Portugis dan Belanda atas wilayah Oe-Cusse dan Noemuti pada masa lalu.
Ia menjelaskan, setelah berlangsung selama sekitar 10 tahun, sengketa antara Portugis dan Belanda tersebut kemudian diputuskan melalui keputusan hakim tinggi di Paris pada 1914. Oe-Cusse tetap menjadi wilayah Portugis, sedangkan Noemuti menjadi bagian wilayah yang dikuasai Belanda.
Menurut dia, sejarah tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa hubungan masyarakat di kedua wilayah telah berlangsung jauh sebelum adanya batas administrasi negara.
Karena itu, kata Yosep, konsep Fraternidade Humana atau persaudaraan manusia perlu diwujudkan melalui hubungan yang dilandasi kasih, perdamaian, dan sikap saling menghormati tanpa melihat sekat administratif.
“Fraternitas itu artinya persaudaraan yang dilandasi oleh kasih dan perdamaian. Ketika kita membangun hubungan ini, yang dikedepankan adalah bagaimana membangun kasih, saling mengasihi sesama sebagai saudara antar kedua batas tanpa melihat sekat administrasi,” ujarnya.
Ia mengatakan masyarakat di kawasan perbatasan pada dasarnya memiliki kedekatan bahasa, budaya, adat istiadat, serta hubungan kekerabatan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
“Kita ini satu, tidak ada dua. Hanya karena administrasi kita dipisah dengan pembatas portal untuk keluar masuk kita laporkan diri. Karena kita berbahasa satu, kampung satu,” katanya.
Yosep juga mengajak para pemimpin di kedua wilayah untuk mengedepankan kepentingan persaudaraan dalam membangun hubungan masyarakat perbatasan.
“Sebagai sesama satu wilayah ini, kita harus tahu bahwa ketika siapapun yang dimandatkan masyarakat untuk memimpin maka dia harus melepas semua label, semua identitas. Semua hanya untuk Fraternitas di antara kita TTU dan Oekusi. Mari kita berdialog untuk membangun persaudaraan Ume Mese Eno Mese (satu rumah, satu pintu) antara Oekusi dan TTU,” pungkasnya.
Dialog tersebut dihadiri Presiden Autoridade RAEOA Regio Da Cruz Salu, Asesor Fraternidade Humana di Presidensia Republik Timor-Leste Nuno Guilherme Horta Assis, Pastor Paroki Nossa Senhora do Rosario Numberi Pe. Carlos de Deus, serta Profesor EBCP Palaban RAEOA Maria Quelo.
Penulis : Lius Salu
Editor : Frumentus Bana
