KEFAMENANUNEWS — Pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarpetani menjadi bagian penting dalam kunjungan petani dari Kabupaten Pesisir Selatan ke kawasan persawahan Kleja Dua, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Sabtu (26/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, para petani mendapatkan penyampaian materi mengenai penerapan sistem sawah pokok murah dengan metode mulsa tanpa olah tanah, termasuk cara mengendalikan hama yang selama ini menjadi salah satu kendala dalam budidaya tanaman padi.
Salah satu materi yang disampaikan berkaitan dengan pengendalian hama keong yang kerap menyerang tanaman padi, terutama pada masa awal pertumbuhan.
Dalam metode mulsa tanpa olah tanah, jerami atau bahan organik dimanfaatkan sebagai mulsa yang menutupi permukaan lahan. Menurut penyampaian materi, keberadaan jerami tersebut dapat membantu mengendalikan pergerakan keong di lahan persawahan.
Keong akan berada di bawah mulsa sehingga tidak mudah bergerak menuju tanaman padi. Dengan kondisi tersebut, petani diharapkan tidak perlu mengandalkan penggunaan bahan kimia untuk mengendalikan hama keong.
“Pertama kita kasih jerami, sehingga keong berada di bawah jerami. Keong tidak akan naik tanpa air. Kuncinya adalah mulsa tanpa olah tanah untuk mengatasi hama keong,” demikian penyampaian materi kepada para petani.
Dijelaskan pula, apabila serangan keong tidak dikendalikan, pertumbuhan tanaman padi dapat terganggu. Tanaman menjadi sulit berkembang dan beranak, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan serta hasil produksi.
Selain keong, materi juga membahas pengendalian wereng dengan memanfaatkan musuh alami yang terdapat di lingkungan persawahan, khususnya laba-laba.
Dalam sistem tersebut, jerami yang dijadikan mulsa menjadi tempat hidup bagi berbagai jenis organisme, termasuk laba-laba. Keberadaan laba-laba dinilai dapat membantu mengendalikan populasi wereng karena laba-laba memangsa telur maupun serangga yang menjadi hama tanaman padi.
“Untuk hama wereng, kita kasih jerami. Di situ akan muncul laba-laba. Laba-laba itu yang akan memakan telur wereng, sehingga wereng tidak perlu langsung dibunuh dengan racun,” jelasnya.
Menurut materi yang disampaikan, terdapat beberapa jenis laba-laba yang dapat ditemukan di lingkungan persawahan, mulai dari laba-laba berukuran besar hingga laba-laba yang hidup di bawah jerami atau mulsa.
Keberadaan laba-laba tersebut menjadi bagian dari pengendalian hama secara alami. Dengan menjaga habitat musuh alami di lahan, populasi wereng diharapkan dapat ditekan tanpa harus selalu menggunakan pestisida
Penerapan mulsa tanpa olah tanah dengan memanfaatkan jerami juga dinilai dapat menciptakan lingkungan persawahan yang lebih mendukung kehidupan organisme yang bermanfaat bagi tanaman.
Melalui pertukaran pengalaman antara petani Kabupaten TTU dan petani dari Kabupaten Pesisir Selatan di kawasan persawahan Kleja Dua, diharapkan semakin banyak pengetahuan praktis yang dapat diterapkan sesuai kondisi lahan masing-masing.
Metode tersebut sekaligus mendorong petani untuk melihat pengendalian hama tidak hanya melalui penggunaan bahan kimia, tetapi juga dengan memanfaatkan keseimbangan ekosistem di dalam lahan persawahan.
Dengan demikian, penerapan mulsa tanpa olah tanah diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung budidaya padi yang lebih efisien, sekaligus membantu petani mengendalikan hama keong dan wereng dengan memanfaatkan proses alami di lingkungan sawah.
Penulis: Manto Manu
Diskominfotik Kabupaten TTU
Editor: Frumentus Bana
Diskominfotik Kabupaten TTU
