KEFAMENANU, NEWS,- Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, berencana menutup 10 dari total 26 puskesmas di wilayah tersebut sebagai bagian dari upaya efisiensi anggaran dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo mengatakan, dari 26 puskesmas yang saat ini beroperasi, pemerintah daerah berencana mempertahankan 16 puskesmas untuk melayani masyarakat di kabupaten itu.
“Kita dalam waktu dekat 10 puskesmas dari 26 puskesmas akan kita tutup. Yang kita pertahankan hanya 16 puskesmas,” kata Yosep di Kefamenanu, Senin (12/10/2026).
Ia meminta Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah (Sekda), Badan Kepegawaian Daerah (BKD), dan Dinas Kesehatan segera menggelar rapat untuk merumuskan puskesmas yang akan ditutup atau diturunkan statusnya menjadi puskesmas pembantu (pustu).
“Pak Sekda, BKD, dan Dinkes segera rapat untuk merumuskan puskesmas mana saja yang akan kita tutup dan turunkan statusnya menjadi pustu. Kita sisakan 16 puskesmas yang akan melayani seluruh masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Utara,” ujarnya.
Yosep menjelaskan, rencana tersebut didasarkan pada pertimbangan jumlah penduduk, jangkauan pelayanan, serta jarak antarfasilitas kesehatan. Menurut dia, jumlah puskesmas yang ada saat ini perlu dievaluasi agar pelayanan kesehatan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Ia menyebutkan, jumlah penduduk Kabupaten TTU sekitar 279 ribu jiwa atau dibulatkan menjadi 280 ribu jiwa. Dengan asumsi satu puskesmas melayani sekitar 20 ribu penduduk, kebutuhan ideal menurut perhitungannya sekitar 14 puskesmas.
“Jumlah penduduk TTU 279 ribu jiwa, kita bulatkan menjadi 280 ribu jiwa. Kalau dibagi 20 ribu jiwa per puskesmas, berarti hanya 14 puskesmas yang harus melayani. Sementara, kita sudah berlebih dan jaraknya sangat berdekatan,” katanya.

Ia mencontohkan Puskesmas Ponu sebagai salah satu fasilitas yang akan dievaluasi karena lokasinya berdekatan dengan Rumah Sakit Pratama (RSP) yang telah tersedia di wilayah tersebut.
Selain itu, Puskesmas Sasi juga masuk dalam pertimbangan karena Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) direncanakan pindah ke wilayah Kilometer 6. Meski demikian, ia menyatakan Puskesmas Tublopo tetap dipertahankan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat setempat.
Puskesmas Manamas juga berpotensi ditutup karena lokasinya berdekatan dengan Puskesmas Wini. Sementara itu, Puskesmas Nunpene dan Puskesmas Bitefa turut menjadi bahan evaluasi karena jarak kedua fasilitas tersebut dinilai berdekatan.
“Salah satunya yang akan kita pilih, Nunpene atau Bitefa, untuk ditutup,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yosep mengatakan rencana penataan tersebut juga bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan tenaga kesehatan dan anggaran daerah. Dengan menggabungkan personel dari fasilitas yang ditutup ke puskesmas yang dipertahankan, pemerintah daerah berharap pelayanan kesehatan dapat berlangsung lebih maksimal.
Ia menilai penataan jumlah fasilitas kesehatan perlu disertai peningkatan kinerja aparatur agar waktu kerja digunakan secara produktif untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Kita tutup sehingga personel yang ada kita gabungkan untuk pelayanan. Kalau satu puskesmas melayani 20 ribu jiwa, maka pelayanan akan maksimal,” katanya.
Menurut dia, pemusatan sumber daya pada 16 puskesmas yang dipertahankan diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan tenaga dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya sekaligus menghemat belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Dengan demikian, pemerintah daerah berharap penataan fasilitas kesehatan tersebut dapat mendukung penyelenggaraan pelayanan publik, khususnya di bidang kesehatan, agar lebih efektif dan optimal.
Penulis : Lius Salu / Diskominfotik TTU
Editor : Frumentus Bana / Diskominfotik TTU
