Terinspirasi Tradisi Fole Mako, Pricilia Siki Raih Juara Pertama Festival Tenun Kreatif TTU

KEFAMENANU NEWS,– Tradisi makan bersama atau Fole Mako yang hidup dalam budaya masyarakat Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) tidak hanya mengandung makna tentang kebersamaan, tetapi juga menyimpan nilai solidaritas, persaudaraan, dan kedaulatan pangan.

Kearifan lokal tersebut menjadi inspirasi hingga dituangkan dalam sentuhan kreativitas generasi muda melalui sebuah karya busana yang ditampilkan dalam Festival Tenun Kreatif Kabupaten TTU Tahun 2026.

Dalam balutan konsep busana “Harmoni Fole Mako” yang dikenakan Pricilia Fransisca Siki, itu kemudian berhasil mencuri perhatian dalam festival yang berlangsung di lapangan futsal samping rumah jabatan (Rujab) wakil bupati TTU, Sabtu (7/11/2026). Tak disangka, Pricilia sebagai peserta kategori remaja ini berhasil meraih juara pertama.

Kostum yang dikenakan Pricilia mengangkat nilai kebersamaan, solidaritas komunal dan kedaulatan pangan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Timor. Perpaduan kain tenun Noemuti, petno’o sebagai hiasan kepala, miniatur lopo, rumah adat, serta replika hidangan tradisional menjadikan busana tersebut tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga sarat makna budaya.

Setiap ornamen yang ditampilkan memiliki pesan tersendiri. Kain tenun merepresentasikan identitas dan warisan budaya, sementara miniatur lopo, rumah adat, serta replika hidangan tradisional menggambarkan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan semangat berbagi.

Ikut Promosi Kain Tenun TTU

Priscilia, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) pada Universitas Terbuka ini saat diwawancari usai kegiatan mengaku tidak menyangka dapat keluar sebagai juara. Perasaan kaget, bangga, terharu, dan bahagia bercampur menjadi satu setelah namanya diumumkan sebagai pemenang.

Pricilia yang lahir di Kefamenanu pada 11 Januari 2005 ini mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam festival tersebut merupakan pengalaman pertama mengikuti perlombaan fashion seperti ini. Meski sempat merasa gugup, kecintaannya terhadap seni dan budaya menjadi motivasi untuk tetap tampil percaya diri.

Ia sendiri aktif dalam Sanggar Sandalwood dan memiliki pengalaman menari di Kefamenanu, Kupang, hingga Timor Leste. Bagi Pricilia, kemenangan tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus kesempatan untuk ikut mempromosikan tenun TTU agar semakin dikenal, tidak hanya di daerah sendiri, tetapi juga di luar daerah hingga mancanegara.

Ia berharap Festival Tenun Kreatif terus diselenggarakan dan menjadi ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan serta kecintaan terhadap budaya daerah. Busana yang dikenakannya merupakan karya desainer Muhammad Nanggo dengan konsep “Harmoni Fole Mako” yang terinspirasi dari tradisi makan bersama masyarakat Noemuti.

Nanggo, sang desainer saat diwawancari terpisah, menjelaskan, bahwa ide desain tersebut muncul setelah dirinya mengikuti kegiatan budaya di Noemuti. Dengan persiapan sekitar tiga hari dan anggaran kurang lebih Rp1,5 juta, ia berupaya menerjemahkan nilai tradisi Fole Mako ke dalam sebuah karya busana karnaval.

Melalui perpaduan kain tenun khas TTU dengan berbagai ornamen budaya, konsep Harmoni Fole Mako menjadi gambaran bahwa tradisi lokal dapat terus hidup dan diwariskan melalui kreativitas, tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Panggung Kreativitas bagi Anak-anak TTU

Sebanyak 37 peserta yang terdiri atas 18 remaja dan 19 anak-anak tampil menunjukkan kemampuan, keberanian, serta kreativitas mereka dalam memadukan kain tenun khas TTU dengan berbagai konsep busana.

Di hadapan para juri dan masyarakat yang memadati lokasi kegiatan, mereka tampil percaya diri untuk mengenal kekayaan budaya yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur mereka. Beragam rancangan yang memadukan motif tenun TTU, aksesori, dan bahan-bahan sederhana yang diolah menjadi busana menarik.

Dalam kategori remaja, sepuluh peserta terbaik yang berhasil meraih juara adalah: Pricilia Fransisca Siki, Alisya Kolo, Camelia Delilis Kolo, Maria Marsyanda Naitakin, Stephania J.G. Naibobe, Maria Yasinta Ukat, Claudiana Afenpah, Maria Angelina Oki, Gradiana Yunita Ukat dan Maria Avrilia Leu.

Sementara kategori anak-anak, sepuluh peserta terbaik yakni: Rambu Hagya M. Bani, Virginia A. Bani, Rafaela K. Sarmento, Paula E. Tuames, Xaverius A. Salem, Christy A. Widyartika, Agusthina Wilhelmina Konis, Helena Maria Nesi Adi, Evelyn V. Tahu dan Antonio Febrero Tasoin.

Budaya Lokal sebagai Sumber Inspirasi Generasi Masa Depan

Kepala Dinas Parekraf TTU, Kristoforus Abi, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa pelibatan anak-anak dan remaja dalam festival ini merupakan bagian dari upaya regenerasi pelestarian budaya.

Menurutnya, generasi muda harus diperkenalkan sejak dini dengan kekayaan motif dan tradisi tenun agar mereka tumbuh dengan rasa memiliki serta kebanggaan terhadap identitas daerah.

Ia juga berharap para peserta terus mengembangkan potensi yang dimiliki, baik melalui kegiatan seni, fashion, maupun berbagai ajang kreativitas lainnya hingga tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional.

Apresiasi juga datang dari Kepala SMKS Katolik St. Pius X Insana, Rm. Dicky Mau Leto, Pr. Ia menilai festival tersebut memberikan ruang positif bagi generasi muda untuk menemukan dan mengembangkan bakat yang mungkin selama ini belum terlihat.

Menurutnya, kegiatan seperti ini dapat memotivasi peserta didik, khususnya yang memiliki minat di bidang busana, untuk berani berinovasi dengan tetap menjadikan budaya lokal sebagai sumber inspirasi.

Festival Tenun Kreatif TTU 2026 menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus berkembang mengikuti kreativitas zaman.

Konsep Harmoni Fole Mako menjadi salah satu gambaran bahwa tradisi makan bersama masyarakat Noemuti bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan mengandung nilai kebersamaan, solidaritas, dan semangat berbagi yang tetap relevan dalam kehidupan generasi masa kini.

Melalui perpaduan tenun, tradisi, dan kreativitas, generasi muda TTU tidak hanya memperkenalkan keindahan busana daerah, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga identitas, merawat kearifan lokal, serta mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang.

Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten TTU melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini bukan sekadar perlombaan fashion, melainkan ruang pembelajaran untuk menumbuhkan rasa percaya diri, mengembangkan bakat, dan memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda.

Penulis: Apson Benu/Diskominfotik TTU Editor: Frumentus Bana/Diskominfotik TTU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *