KEFAMENANU NEWS,– Barang-barang yang selama ini dianggap tidak terpakai ternyata dapat disulap menjadi karya busana yang menarik dan bernilai seni. Kreativitas tersebut ditampilkan anak-anak dan remaja dalam kategori busana kasual berbahan bekas pada Festival Tenun Kreatif Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Tahun 2026, Sabtu (7/11/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten TTU melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) tersebut berlangsung di lapangan futsal samping rumah jabatan (Rujab) wakil bupati TTU.
Sebanyak 37 peserta yang terdiri atas 18 remaja dan 19 anak-anak tampil memperagakan busana hasil kreasi yang memadukan kekayaan motif tenun khas TTU dengan berbagai bahan daur ulang. Mulai dari kardus, kotak bekas, perca kain tenun, jeans bekas, kulit jagung, hingga rak telur dan bahan bekas sampah plastik lainya diolah menjadi bagian dari rancangan busana yang unik dan menarik.
Setiap karya tidak hanya menampilkan keindahan desain, tetapi juga membawa pesan bahwa kreativitas dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Daur Ulang Jadi Karya Busana Bernilai Kreatif
Salah satu konsep yang menarik perhatian dalam kategori tersebut adalah karya berjudul “A Sweet Pepulih (Peduli Lingkungan Hidup yang Manis)”. Kostum ini mengangkat pesan bahwa generasi muda tidak hanya memiliki tanggung jawab mencintai dan melestarikan budaya daerah, tetapi juga harus peduli terhadap lingkungan tempat mereka hidup.
Konsep busana tersebut memadukan perca tenun, selendang tenun, celana jeans bekas, kulit jagung, serta rak telur menjadi sebuah rancangan busana kasual anak-anak. Perpaduan berbagai bahan tersebut memperlihatkan bahwa barang bekas yang sering dianggap tidak bernilai masih dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang indah apabila diolah dengan kreativitas.
Karya ini sekaligus membawa pesan bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan. Pesan yang ingin disampaikan melalui kostum tersebut adalah mencintai Tuhan, tanah air, budaya, dan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.

Kardus Bekas Disulap Menjadi Busana Menarik
Kreativitas serupa juga terlihat pada busana yang dikenakan Queensha Yunanda Missa dalam kategori busana kasual berbahan bekas.Busana yang ditampilkan mengusung motif khas TTU dengan memanfaatkan kardus bekas sebagai bahan utama yang kemudian dipercantik dan dibalut kain bermotif tenun lokal.
Tidak hanya bagian pakaian, sejumlah aksesori pendukung seperti bandana, ikat pinggang, sepatu, dan anting-anting turut dirancang untuk memperkuat penampilan.Bandana digunakan sebagai hiasan kepala, ikat pinggang membentuk siluet tubuh, sementara sepatu dan anting-anting menjadi pelengkap penampilan agar terlihat lebih menarik.
Menariknya, seluruh konsep tersebut memanfaatkan bahan daur ulang berupa kardus dan kotak bekas.Karya ini memperlihatkan bahwa bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan tempat tinggal dapat diolah menjadi busana kreatif tanpa harus selalu menggunakan material baru.

Tenun Lokal dan Kepedulian Lingkungan Berjalan Bersama
Selain memanfaatkan bahan daur ulang, sejumlah peserta juga memadukan motif tenun lokal, salah satunya motif Sotis Insana dengan sisa bahan jahitan dan aksesori hasil olahan barang bekas. Perpaduan warna dan material tersebut menghadirkan tampilan busana yang segar, modern, sekaligus tetap memperlihatkan identitas budaya masyarakat TTU.
Kreativitas para peserta menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku. Tenun dapat dikembangkan melalui berbagai pendekatan desain tanpa menghilangkan nilai dan karakter yang melekat di dalamnya.

Di sisi lain, pemanfaatan bahan bekas juga memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai pentingnya mengurangi sampah dan membangun kebiasaan menggunakan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.
Kepala Dinas Parekraf TTU, Kristoforus Abi, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa keterlibatan anak-anak dalam festival ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya daerah sejak usia dini sekaligus melatih kreativitas dan keberanian mereka.

Menurutnya, generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengembangkan potensi, termasuk dalam bidang fashion dan desain busana, sehingga ke depan mampu tampil dalam berbagai kegiatan di tingkat kabupaten, provinsi, nasional, bahkan internasional.
Festival Tenun Kreatif TTU 2026 membuktikan bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan bahan mahal. Dengan ide, keberanian berinovasi, dan kepedulian terhadap lingkungan, bahan-bahan sederhana dapat disulap menjadi karya yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan edukatif.

Lebih dari sekadar perlombaan busana, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mencintai budaya lokal, mengembangkan kreativitas, dan mengambil bagian dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sebab, menjaga budaya dan menjaga lingkungan merupakan dua bentuk kecintaan terhadap daerah yang dapat dimulai dari langkah kecil sejak usia dini.
Penulis : Apson Benu/Diskominfotik TTU Editor : Frumentus Bana/Diskominfotik TTU
