KEFAMENANU, NEWS – Ribuan umat Katolik Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu mengikuti ibadah Jalan Salib dalam rangka peringatan Jumat Agung di Bukit Sabuin, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (3/4/2026).
Bukit Sabuin dikenal sebagai salah satu lokasi ziarah dan tempat doa umat di wilayah paroki tersebut. Di puncak bukit berdiri patung Bunda Maria yang menjadi tujuan akhir prosesi Jalan Salib.
Sejak pagi hari, umat mulai memadati kawasan bukit dan berjalan kaki menempuh jarak sekitar satu kilometer menuju puncak. Meski harus menghadapi medan terjal dan cuaca panas, umat tetap mengikuti setiap perhentian Jalan Salib dengan penuh khusyuk.
Perjalanan mendaki yang cukup berat tidak menyurutkan semangat umat. Setiap perhentian dimaknai sebagai bagian dari penghayatan iman atas kisah sengsara Yesus Kristus.
Salah seorang umat, Alexander Kosat, mengaku tidak keberatan dengan medan yang dilalui. Menurutnya, Jalan Salib merupakan momen penting bagi umat Katolik untuk menghayati penderitaan Yesus.
“Jalan Salib adalah cara kita merasakan dan menghidupi kembali kisah sengsara Tuhan Yesus. Karena itu, semua umat ambil bagian sebagai wujud penghayatan iman,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Ina Sabu. Ia menilai medan yang dilalui umat tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami Yesus Kristus ribuan tahun lalu.
“Kasih dan penderitaan Yesus adalah wujud cinta yang sesungguhnya. Dengan mengikuti Jalan Salib, kita belajar menghidupi kasih itu dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Sementara itu, Pastor Rekan Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu, Romo Jeky Bouk, dalam pesannya mengajak umat untuk tidak hanya memaknai Jalan Salib sebagai ritual semata, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Ia menegaskan nilai pengorbanan, kesabaran, dan kasih yang direnungkan dalam Jalan Salib harus menjadi dasar dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Makna Jalan Salib harus kita bawa dalam hidup kita, agar nilai kasih, pengorbanan, dan kesabaran benar-benar kita hidupi,” pesannya.
Penulis : Lius Salu
Editor : Frumentus Bana
