Elisabeth Endang Sri Susilowati Ajak Masyarakat Jadi Agen Perubahan Literasi Informasi

KEFAMENANU, NEWS – Elisabeth Endang Sri Susilowati yang mewakili Bunda Literasi Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) mengajak masyarakat untuk berperan aktif sebagai agen perubahan dalam literasi informasi.

Ajakan tersebut disampaikannya usai mengikuti kegiatan bimbingan teknis (bimtek) yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten TTU, Senin (4/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Elisabeth juga didapuk sebagai salah satu narasumber. Ia menilai pelaksanaan bimtek sangat relevan karena melibatkan berbagai unsur, mulai dari pegiat literasi, guru, pustakawan hingga tenaga kepustakaan.

Menurutnya, kegiatan ini penting guna membekali peserta agar mampu menjadi agen perubahan yang dapat mengedukasi masyarakat terkait pentingnya literasi informasi. Selain menerima materi, peserta juga diharapkan mampu menindaklanjuti pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Bimtek ini sangat baik karena tidak hanya memberikan materi, tetapi juga mendorong adanya tindak lanjut di tengah masyarakat. Para peserta diharapkan mampu menjadi penggerak literasi informasi,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan serupa ke depan dapat melibatkan lebih banyak tokoh masyarakat dan tokoh desa, termasuk desa-desa yang telah mengembangkan program literasi seperti Desa Tapenpah.

Elisabeth turut menyoroti peran komunitas literasi, seperti Klik Kefamenanu, yang dinilainya telah menghadirkan inovasi dengan mendorong budaya gemar membaca di ruang publik seperti Taman Kota Kefamenanu.

Dalam pemaparannya, Elisabeth mengangkat materi bertajuk “Saring Sebelum Sharing”. Ia menekankan pentingnya sikap kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama di era digital saat ini.

Menurutnya, arus informasi yang begitu cepat melalui media sosial, grup percakapan, maupun platform digital lainnya tidak selalu menjamin kebenaran isi informasi tersebut. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan literasi informasi untuk memilah dan memverifikasi kebenaran informasi sebelum membagikannya.

“Sering kali masyarakat hanya membaca tanpa melakukan proses literasi, seperti mengecek kebenaran informasi. Padahal, tidak semua informasi yang beredar itu benar,” jelasnya.

Ia menambahkan, fenomena penyebaran informasi tanpa verifikasi tidak hanya terjadi di Kabupaten TTU, tetapi juga menjadi persoalan umum di berbagai daerah, termasuk kota-kota besar.

Lebih lanjut, Elisabeth menegaskan bahwa literasi informasi menjadi kunci utama dalam menangkal penyebaran hoaks di tengah masyarakat. Penerima informasi dituntut untuk tidak hanya menerima, tetapi juga mengolah serta memeriksa kebenarannya sebelum menyebarluaskan.

Sebagai contoh, ia mengungkapkan maraknya pesan berantai di media sosial yang menawarkan hadiah atau informasi tidak jelas sumbernya. Tanpa proses verifikasi, informasi semacam ini kerap langsung dibagikan dan berpotensi merugikan masyarakat.

“Karena itu, penting bagi kita semua untuk selalu mengecek kebenaran informasi sebagai upaya mencegah penyebaran hoaks maupun tindak kejahatan seperti penipuan,” pungkasnya.

Penulis : Lius Salu

Editor : Frumentus Bana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *