KEFAMENANU, NEWS – Tim juri Lomba Perpustakaan Desa yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, melanjutkan penilaian pada hari kedua dengan menyasar tiga desa di dua kecamatan, Jumat (30/10/2026).
Ketiga desa tersebut yakni Desa Usapinonot, Kecamatan Insana Barat, serta Desa Letmaffo dan Desa Letmaffo Timur, Kecamatan Insana Tengah.
Tim juri terdiri atas Drs. Yohanes Sanak dan Agustinus Jefri Banu, didampingi Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan TTU Robertus Nahas, Sekretaris Dinas Tibertius F.R. Rubu, serta sejumlah pustakawan dan staf dinas terkait.
Ketua Tim Juri, Yohanes Sanak, mengatakan penilaian mencakup sejumlah indikator, antara lain ketersediaan sarana dan prasarana, koleksi buku yang sesuai dengan kebutuhan anak sekolah dan masyarakat, inovasi pengelolaan perpustakaan, serta kebijakan pemerintah desa dalam mendukung pengembangan literasi.
“Yang paling penting adalah ketersediaan sarana dan prasarana serta buku-buku untuk memenuhi kebutuhan, tidak hanya anak-anak sekolah, tetapi juga masyarakat sekitar,” katanya setelah penilaian di Desa Letmaffo Timur.
Ia menjelaskan, aspek lain yang menjadi perhatian tim juri adalah inovasi pemerintah desa dalam mengembangkan perpustakaan serta kebijakan yang mendorong masyarakat memanfaatkan fasilitas tersebut.
Menurut dia, keberhasilan perpustakaan tidak hanya diukur dari banyaknya koleksi buku, tetapi juga dari manfaat yang diperoleh masyarakat setelah membaca dan mengikuti kegiatan pembelajaran di perpustakaan.
“Yang paling penting adalah apa yang dipraktikkan setelah orang belajar atau membaca di perpustakaan,” ujarnya.
Yohanes mengatakan, dari enam desa yang telah dinilai hingga hari kedua, secara umum pengelolaan perpustakaan menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, setiap desa memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu menjadi perhatian untuk pembenahan ke depan.
Ia mengatakan tim juri juga memberikan sejumlah catatan dan rekomendasi kepada pemerintah desa agar pengelolaan perpustakaan semakin baik, termasuk mendorong inovasi yang dapat menarik minat masyarakat untuk berkunjung dan membaca.
“Percuma kita mengadakan banyak buku jika tidak ada kebijakan yang mendukung masyarakat untuk datang membaca. Karena itu, perlu ada inovasi agar perpustakaan menjadi tempat yang menarik bagi masyarakat,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Yohanes juga memberikan buku hasil karyanya kepada pihak desa yang dikunjungi. Ia mengatakan, pemberian buku tersebut merupakan bentuk dorongan agar karya tulis dapat dibaca dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
“Satu karya kalau dinikmati sendiri, kita seperti menikmati sendiri. Sebuah karya disebut bermutu atau bermanfaat apabila bisa dinikmati oleh banyak orang,” ujarnya.
Sementara itu, anggota tim juri Agustinus Jefri Banu mengatakan, lomba perpustakaan desa tidak semata-mata bertujuan menentukan desa terbaik, tetapi juga menjadi bagian dari evaluasi sekaligus motivasi bagi pemerintah desa untuk mengembangkan perpustakaan sebagai sarana peningkatan literasi masyarakat.
Menurut dia, pengembangan pendidikan dan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan formal, tetapi membutuhkan dukungan pemerintah desa melalui penyediaan perpustakaan dan taman bacaan masyarakat.
“Jika perpustakaan desa hidup dan menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar setelah pulang sekolah, hal itu akan sangat baik dalam meningkatkan literasi,” katanya.
Ia menilai, selama ini kegiatan literasi anak cenderung terhenti setelah jam sekolah karena keterbatasan tempat belajar dan pendampingan di rumah. Kondisi tersebut, antara lain, dialami anak-anak yang tinggal bersama kakek atau nenek karena orang tua mereka bekerja di luar daerah.
Karena itu, keberadaan perpustakaan desa diharapkan menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak setelah pulang sekolah sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan di tingkat desa.
“Ini yang sedang kita dorong agar ekosistem pendidikan berjalan. Dengan demikian, literasi pasti akan berkembang,” ujarnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan TTU Robertus Nahas mengatakan, kegiatan lomba tersebut diharapkan menjadi motor penggerak peningkatan budaya literasi, khususnya bagi anak-anak di setiap desa.
Menurut dia, kebiasaan membaca sejak dini dapat membantu membentuk generasi yang berkualitas, baik dari aspek intelektual, moral, karakter, maupun spiritual.
“Di desa harus lahir anak-anak yang berkualitas secara intelektual, moral, karakter, dan spiritual melalui kegiatan membaca,” katanya.
Ia menambahkan, peningkatan minat baca akan membuka wawasan anak-anak sehingga mereka tidak hanya mengenal lingkungan sekitar, tetapi juga memperoleh pengetahuan tentang berbagai hal di luar kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Kepala Desa Letmaffo Timur Maria Gorety Sau mengapresiasi pelaksanaan lomba tersebut karena mendorong pemerintah desa menyediakan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan mengembangkan pengetahuan.
Ia mengatakan, pemerintah desa mengembangkan konsep perpustakaan melalui pendekatan “baca, tonton, dan praktik” dengan menyediakan Rumah Cerdas Kreatif dan Inovatif sebagai wadah kegiatan masyarakat.
Menurut dia, fasilitas yang tersedia tidak hanya berupa buku bacaan, tetapi juga jaringan internet, laptop, dan telepon genggam yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengakses berbagai video tutorial sebagai bahan pembelajaran.
“Ketika masyarakat membaca, kami juga menyediakan Wi-Fi, laptop, dan telepon genggam agar mereka bisa menonton tutorial. Selanjutnya, kami mendampingi mereka untuk mempraktikkannya,” katanya.
Ia menjelaskan, salah satu hasil pengembangan kegiatan tersebut adalah kerajinan masyarakat. Pemerintah desa bahkan menyediakan mesin jahit agar warga dapat mengembangkan keterampilan dan menghasilkan produk kerajinan.
Selain itu, pemerintah desa juga memiliki fasilitas dapur pengolahan pangan lokal yang telah tersedia sebelum pengembangan perpustakaan desa. Melalui fasilitas tersebut, masyarakat, khususnya kaum ibu, melakukan kegiatan menanam dan mempraktikkan pengolahan bahan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah, seperti keripik.
“Biasanya setiap hari Sabtu, banyak ibu-ibu datang untuk menonton sekaligus mempraktikkan pengolahan bahan pangan lokal. Kami juga menyediakan pojok musik bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat dan tampil,” katanya.
Penulis : Lius Salu
Editor : Frumentus Bana
